Protes mahasiswa di India membesar setelah dugaan kebocoran soal NEET membuat hasil ujian dibatalkan dan jutaan peserta harus menjalani tes ulang. Krisis tersebut mengguncang pemerintah hingga Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri pada 25 Juli 2026.
Di tengah demonstrasi, muncul pula kabar kematian sejumlah peserta yang dicatat polisi sebagai bunuh diri. Keluarga mereka mengaitkan tekanan mental dengan pembatalan ujian pertama dan ketidakpastian menjelang ujian ulang.
Kemarahan Mahasiswa Menembus Ibu Kota
Aksi yang berlangsung sekitar dua bulan pada awalnya menuntut penanganan tegas atas dugaan kebocoran soal. Gerakan itu kemudian meluas menjadi kritik terhadap sistem pendidikan, kesempatan kerja, dan akuntabilitas pemerintah India.
Puluhan ribu mahasiswa berunjuk rasa di pusat Kota New Delhi dalam sepekan terakhir. Polisi menggunakan tongkat dan gas air mata saat membubarkan massa.
Anggota parlemen oposisi ikut mendesak Pradhan untuk mundur dari jabatan menteri. Pengunduran dirinya menjadi salah satu perkembangan terbesar dalam krisis pendidikan yang menyedot perhatian nasional tersebut.
Kelompok Cockroach Janta Party yang memimpin aksi di ibu kota menyebut 21 mahasiswa meninggal bunuh diri akibat skandal ini. Klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen, sementara pemerintah belum mengumumkan kompensasi bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.
Kasus Kebocoran yang Memicu Ujian Ulang
NEET atau National Eligibility-cum-Entrance Test merupakan jalur penting bagi calon mahasiswa kedokteran di India. Lebih dari 2 juta peserta mengikuti ujian tersebut pada Mei 2026, tetapi hanya sekitar 6% yang dapat memperoleh tempat.
Dugaan kebocoran soal terungkap pada pertengahan Mei 2026. Pemerintah kemudian membatalkan hasil ujian pertama dan menjadwalkan ujian ulang pada Juni 2026.
| Peristiwa | Waktu | Dampak |
|---|---|---|
| NEET digelar | Mei 2026 | Diikuti lebih dari 2 juta peserta |
| Kebocoran soal diselidiki | Pertengahan Mei 2026 | Hasil ujian dibatalkan |
| Ujian ulang digelar | Juni 2026 | Peserta kembali mempersiapkan tes |
| Pradhan mundur | 25 Juli 2026 | Terjadi saat protes meluas |
CBI menyatakan guru dan agen di sejumlah pusat bimbingan belajar swasta diduga terlibat membocorkan soal. Mereka diduga menjual akses soal kepada peserta yang mengikuti seleksi masuk kedokteran.
Lembaga penyidik itu telah menangkap 13 tersangka, termasuk seorang dokter dan sejumlah guru. Pemerintah India membuka penyelidikan untuk mengusut dugaan jual beli soal tersebut.
Keluarga Menanggung Risiko Finansial
Bagi banyak keluarga, pendidikan kedokteran dipandang sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih stabil. Karena itu, pembatalan hasil NEET membawa dampak yang jauh melampaui persoalan administrasi ujian.
Data pemerintah menunjukkan pengangguran kaum muda India mencapai 9,9% pada tahun lalu. Tingkat itu lebih tinggi dibandingkan pengangguran keseluruhan yang tercatat 3,1%.
Rajesh Kumar, petani dari Jhunjhunu di Rajasthan, menjual tanah senilai 2,8 juta rupee dan mengambil pinjaman bank 1,1 juta rupee untuk membiayai persiapan putranya. Putranya, Pradeep Kumar yang berusia 22 tahun, meninggal pada 15 Mei 2026 beberapa hari setelah hasil ujian dibatalkan.
Kumar menyebut peristiwa itu sebagai “kegagalan sistem” dan menuntut pertanggungjawaban, bukan uang. Banyak keluarga lain juga mengeluarkan tabungan atau berutang demi biaya bimbingan belajar, tempat tinggal, dan bahan persiapan ujian.
Kematian Peserta Masih Diselidiki
Sheikh Sana, 19 tahun, meninggal sehari sebelum ujian ulang dilaksanakan. Keluarganya mengatakan Sana meninggalkan tulisan “maaf” dan merasa takut menghadapi tes yang harus diulang.
“Ketakutan membunuhnya. Ketakutan menghadapi ujian ulang NEET,” kata ayahnya, Sheikh Jaffar Hussain, kepada Reuters di lokasi protes Jantar Mantar.
Kepolisian di Rajasthan, Telangana, dan Gujarat mencatat kematian Sana dan dua mahasiswa lain sebagai kasus bunuh diri. Penyebab di balik kematian itu masih dalam penyelidikan dan belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh Reuters.
Perdana Menteri Narendra Modi menyebut kebocoran soal sebagai masalah yang sangat menyakitkan bagi jutaan mahasiswa dan orang tua. Dalam pesan video pada 23 Juli 2026, Modi menjanjikan tindakan tegas serta proses hukum yang cepat.
Aktivis pendidikan Nandita Narain menilai protes tersebut memperlihatkan besarnya tekanan dalam persaingan masuk perguruan tinggi. Di panggung aksi New Delhi, foto mahasiswa yang meninggal dipajang ketika massa terus meminta jawaban dari pemerintah.






