Tawaran Damai Lee Jae Myung Menyentuh Nuklir Korea Utara, Pyongyang Belum Menjawab

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengaitkan tawaran perdamaian dengan peluang membahas kemampuan nuklir Korea Utara. Ia mengajukan dialog tanpa syarat kepada Pyongyang, tetapi hingga Minggu, 16 Agustus 2026, belum ada jawaban dari media pemerintah Korea Utara.

KCNA dan Rodong Sinmun belum menanggapi seruan tersebut. Diamnya Pyongyang menjadi sorotan karena tawaran Seoul muncul di tengah ketegangan militer yang masih berlangsung di Semenanjung Korea.

Diplomasi untuk Menahan Risiko Nuklir

Lee menyatakan pembicaraan damai dapat membuka jalan bagi langkah efektif untuk menghentikan kemajuan kemampuan nuklir Korea Utara. Menurutnya, isu keamanan tersebut dapat dibahas melalui diplomasi yang berjalan dengan baik.

“Melalui langkah ini, kita juga mungkin dapat membahas langkah-langkah efektif untuk menghentikan kemampuan nuklir Korea Utara,” ujar Lee. Pernyataan itu menunjukkan bahwa agenda perundingan mencakup persoalan keamanan yang lebih luas daripada sekadar hubungan bilateral.

Pemerintah Korea Selatan membuka kemungkinan format dialog yang melibatkan Amerika Serikat. Seoul juga menyebut China dapat terlibat dalam salah satu format pembicaraan yang dipertimbangkan.

Meski membuka opsi multilateral, Seoul tetap mendorong komunikasi langsung dengan Korea Utara. Lee meminta kedua pihak yang terlibat langsung untuk memulai diskusi demi mengakhiri perang berkepanjangan.

Ajakan Menghentikan Saling Mengancam

Usulan itu disampaikan Lee dalam pidato peringatan 81 tahun pembebasan Korea dari penjajahan Jepang pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Ia menyerukan peralihan dari ancaman menuju perundingan.

“Mari kita kesampingkan niat untuk saling mengancam dan mulailah diskusi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lama ini, sebagai pihak-pihak yang terlibat langsung,” kata Lee. Ia berharap Korea Selatan dan Korea Utara dapat hidup damai serta berkembang bersama.

Seoul menyatakan siap membangun sistem pengamanan berlapis dan menjalankan langkah preventif di Semenanjung Korea. Pemerintah Korea Selatan juga menegaskan tidak berniat menyerap wilayah Korea Utara.

Komitmen lain yang disampaikan Seoul adalah penghormatan terhadap sistem politik yang berlaku di Pyongyang. Jaminan tersebut ditujukan untuk menciptakan ruang komunikasi tanpa prasyarat antara dua negara bertetangga itu.

Akar Konflik yang Belum Ditutup

Perang Korea 1950-1953 berakhir secara militer melalui Perjanjian Gencatan Senjata pada 1953. Kesepakatan itu ditandatangani dengan keterlibatan Komando PBB pimpinan Amerika Serikat, Korea Utara, dan China.

Namun, gencatan senjata tidak pernah berubah menjadi perjanjian damai permanen. Akibatnya, dua Korea secara teknis masih berada dalam status perang.

Keadaan tersebut menjadi alasan Seoul menginginkan mekanisme perdamaian yang lebih stabil. Pemerintah Korea Selatan memandang langkah diplomatik sebagai peluang untuk menurunkan ketegangan militer regional.

Hambatan dari Sikap Pyongyang

Korea Utara sebelumnya konsisten menolak tawaran diplomasi dari Seoul. Pyongyang juga terus memperkuat pertahanan di garis depan.

Selama ini, Korea Utara mengecam latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat sebagai provokasi. Belum ada kepastian apakah tawaran terbaru Lee akan mengubah sikap Pyongyang terhadap dialog.

Usulan tanpa syarat itu kembali menempatkan perdamaian Korea sebagai isu mendesak di kawasan. Selama belum ada perjanjian damai resmi, gencatan senjata yang bertahan puluhan tahun tetap belum mengakhiri konflik secara formal.

Baca Juga