Tari Songkok Recca Mengantar Taswina Putri dari Bone ke Seleksi Paskibraka Pusat

Tari Songkok Recca khas Bone menjadi salah satu penampilan yang mengantar Taswina Putri melaju dalam seleksi Paskibraka. Siswi SMAN 1 Bone itu meraih peringkat pertama pada pantukhir tingkat provinsi sebelum mengikuti verifikasi pusat.

Taswina kemudian terpilih sebagai Calon Paskibraka Tingkat Pusat 2026 mewakili Sulawesi Selatan. Capaian tersebut membuka kembali kesempatan bagi perempuan asal Kabupaten Bone untuk tampil di tingkat nasional setelah lebih dari 20 tahun.

Penampilan tari itu tidak dilalui tanpa rasa gugup. Taswina mengaku sempat minder melihat kemampuan peserta lain, tetapi tetap memilih maju hingga namanya dipanggil pada hasil pantukhir.

Keberhasilannya di tingkat provinsi membawa Taswina ke verifikasi pusat. Ia mengikuti tahapan itu bersama tiga pasang perwakilan Sulawesi Selatan dan 227 peserta dari 38 provinsi.

Tahap yang Dilewati Taswina

Perjalanan menuju Paskibraka Pusat diawali dari seleksi tingkat kabupaten. Dalam tahapan awal itu, Taswina mengikuti pengukuran fisik dan tes kesamaptaan sebelum melanjutkan persaingan ke tingkat provinsi.

Tingkat SeleksiDetail Perjalanan
KabupatenTinggi badan Taswina tercatat 166 cm dan ia menjalani tes kesamaptaan.
ProvinsiMenampilkan Tari Songkok Recca khas Bone dan menjadi peringkat pertama pantukhir.
PusatMenjalani verifikasi bersama wakil dari Sulawesi Selatan dan provinsi lain.

Pengukuran tinggi badan sempat menjadi momen yang berat bagi Taswina. Ia menangis karena tinggi badannya 166 cm, sedangkan salah seorang peserta lain memiliki tinggi 168 cm.

Meski demikian, Taswina menuntaskan seleksi tanpa mengundurkan diri. Ia berusaha menerima kemungkinan hasil apa pun sambil mempertahankan upaya terbaik di setiap ujian.

Lari 12 menit menjadi tes yang paling menantang dalam rangkaian kesamaptaan. Untuk kesamaptaan B, seperti push up dan sit up, Taswina merasa dapat melaluinya dengan cukup baik.

Bekal dari Pramuka hingga Marching Band

Persiapan Taswina tidak hanya bertumpu pada latihan seleksi. Kegiatan pramuka, seni tari, dan marching band yang diikutinya sejak SMP ikut membentuk daya tahan fisik dan sikap disiplin.

Rutinitas itu membantunya mengatur waktu di tengah latihan dan tugas sekolah. Pada malam hari, ia mempelajari materi Seleksi Wawasan Kebangsaan dan Seleksi Intelegensia Umum.

Pengalaman dengan Paskibraka juga telah hadir dalam kehidupan Taswina sejak kecil. Ibunya sering memperlihatkan seragam Paskibraka milik kakaknya, Taslindah, yang pernah bertugas di tingkat nasional.

Taslindah kini melatih anggota Paskibraka di Kabupaten Bone. Taswina juga kerap ikut saat kakaknya menjalankan latihan, sehingga ia telah mengenal gambaran kegiatan latihan dan pemusatan yang disebut Desa Bahagia.

Jejak Keluarga yang Berulang

Kelulusan Taswina mengulang jejak Taslindah setelah jeda 21 tahun. Sang kakak menyambut pengumuman itu dengan rasa bangga dan memeluk Taswina sebagai bentuk dukungan.

Bagi Taswina, pemusatan latihan di tingkat pusat menjadi ruang untuk bertemu pemuda dari Sabang hingga Merauke. Ia ingin menjalani pengalaman tersebut dengan percaya diri karena para peserta disatukan oleh tugas mengibarkan Merah Putih.

Taswina tidak ingin terlalu terpaku pada peluang memperoleh posisi tertentu, termasuk pembawa baki atau danpok. Ia menilai semua peserta setara di mata pelatih dan pamong.

Disiplin dari perjalanan Paskibraka ingin dibawanya ke rencana berikutnya, yaitu masuk Akademi Kepolisian. Keinginan itu berkaitan dengan profesi Taslindah sebagai Polisi Wanita, setelah rencana awal Taswina menjadi pramugari tidak mendapat izin orang tua.

Baca Juga