Setelah meraih gelar doktor, Surni memilih kembali ke Wakatobi dan mengajar di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Wakatobi. Keputusan itu memberi makna baru pada pencapaiannya sebagai perempuan pertama dari suku Bajo yang menyelesaikan pendidikan doktoral.
Perjalanan Surni bukan hanya tentang gelar akademik pribadi. Kehadirannya sebagai dosen menghadirkan contoh langsung bagi masyarakat Bajo bahwa pendidikan tinggi dapat dicapai dan dibawa pulang untuk mengabdi di daerah asal.
Teladan bagi Generasi Pesisir
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ulhaq menempatkan kisah Surni sebagai gambaran penting tentang kekuatan pendidikan. Ia menyampaikan hal itu dalam Penganugerahan Beasiswa SCG Sharing The Dream 2026.
Fajar menyebut Surni sebagai perempuan pertama dari suku Bajo yang meraih gelar doktor. “Saya juga bertemu dengan seorang perempuan, perempuan pertama suku Bajo yang meraih gelar Doktor,” ujar Fajar, seperti dilaporkan Detikcom.
Bagi Fajar, capaian tersebut membuktikan masyarakat yang hidup di perairan juga memiliki peluang mengejar pendidikan setinggi mungkin. Ia menilai pendidikan dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk mewujudkan mimpi, termasuk bagi warga dari komunitas yang lekat dengan kehidupan laut.
Peran Surni di ITBM Wakatobi menegaskan kelanjutan dari proses tersebut. Setelah menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral, ia kini berada dalam lingkungan kampus untuk ikut menjalankan proses pembelajaran bagi mahasiswa.
Wakatobi dan Tantangan Wilayah Laut
Kisah ini berangkat dari Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang 96 persen wilayahnya berupa laut. Karakter geografis tersebut membentuk kehidupan masyarakat, termasuk suku Bajo yang tinggal dekat dengan perairan.
Fajar mengaku bertemu langsung dengan masyarakat Bajo saat berkunjung ke Wakatobi. Kunjungan itu memperlihatkan bahwa akses dan semangat belajar tetap hadir di tengah kondisi wilayah yang didominasi laut.
Keterbatasan geografis dapat membuat perjalanan pendidikan terasa lebih menantang. Namun, pencapaian Surni menunjukkan bahwa keadaan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan studi hingga jenjang tertinggi.
Keberhasilannya juga memberi representasi bagi perempuan dari masyarakat pesisir dan perairan. Ruang pendidikan tinggi tidak hanya terbuka bagi mereka yang hidup di pusat-pusat perkotaan, melainkan dapat diperjuangkan dari daerah dengan karakter wilayah berbeda.
Mimpi yang Tumbuh di Kalangan Anak Bajo
Dalam pertemuannya dengan anak-anak suku Bajo, Fajar menanyakan gambaran masa depan yang mereka inginkan. Anak-anak tersebut menyebut cita-cita menjadi guru, dokter, tentara, dan polisi.
Beberapa di antaranya memiliki keinginan yang terkait erat dengan kehidupan keluarga sebagai pencari ikan. Mereka ingin mengembangkan teknologi yang dapat membantu orang tua menjalankan pekerjaan di laut.
Jawaban itu memperlihatkan bahwa pendidikan membuka ruang untuk memikirkan profesi sekaligus solusi bagi kehidupan sehari-hari. Cita-cita anak-anak Bajo mencakup keinginan untuk berkembang tanpa melepaskan hubungan dengan lingkungan dan keluarga mereka.
Dalam konteks itu, Surni menjadi contoh nyata yang dekat dengan harapan mereka. Dari Wakatobi, ia meraih gelar doktor dan kembali sebagai pengajar, sementara generasi muda Bajo terus membangun mimpi mereka sendiri.






