Surni, Perempuan Bajo Pertama Bergelar Doktor yang Memilih Kembali Mengajar

Surni memilih kembali mengajar di Wakatobi setelah menyelesaikan pendidikan doktoral. Langkah itu menjadikannya bukan hanya perempuan pertama dari suku Bajo yang meraih gelar doktor, tetapi juga dosen yang mengabdi di daerah asal.

Ia kini mengajar di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah atau ITBM Wakatobi. Kehadirannya memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat berujung pada kontribusi langsung bagi masyarakat setempat.

Informasi mengenai pencapaian Surni disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ulhaq. Fajar menceritakan kisah tersebut saat membagikan pengalaman kunjungannya ke Wakatobi.

“Jadi ada perempuan suku Bajo meraih gelar Doktor dan sekarang dia menjadi dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Wakatobi,” kata Fajar. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Penganugerahan Beasiswa SCG Sharing The Dream 2026 yang ditayangkan melalui kanal YouTube SCG.

Pengabdian Setelah Menempuh S3

Pilihan Surni untuk pulang ke Wakatobi memberi makna lain pada perjalanan akademiknya. Gelar pendidikan tinggi yang diraih tidak berhenti sebagai pencapaian personal, melainkan diteruskan melalui peran mengajar.

Fajar memandang kisah itu sebagai bukti bahwa pendidikan mampu menembus berbagai keterbatasan keadaan. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perairan, capaian tersebut menunjukkan adanya ruang untuk menempuh jenjang pendidikan hingga S3.

Wakatobi sendiri memiliki sekitar 96 persen area perairan. Wilayah ini juga menjadi ruang hidup masyarakat suku Bajo yang kesehariannya berkaitan erat dengan laut.

Kondisi geografis tersebut membentuk konteks penting perjalanan pendidikan Surni. Dari daerah yang didominasi laut, ia menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor lalu kembali menjadi pengajar di kampung halamannya.

Harapan Generasi Muda Bajo

Dalam kunjungannya, Fajar juga berbincang dengan siswa-siswa di Wakatobi. Ia menemukan anak-anak yang memiliki keinginan untuk menjadi guru, dokter, tentara, maupun polisi.

“Saya tanya apa mimpi mereka ketika nanti sudah besar. Di antara mereka bercita-cita bermimpi menjadi guru, menjadi dokter, menjadi tentara dan polisi,” ujar Fajar.

Harapan anak-anak itu tidak seluruhnya terlepas dari kehidupan keluarga mereka di laut. Sejumlah siswa ingin menciptakan teknologi yang dapat digunakan di tengah laut untuk membantu orang tua mencari ikan.

Keinginan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dapat berhubungan langsung dengan kebutuhan komunitas. Anak-anak dapat memandang sekolah sebagai tempat untuk mengenali cita-cita sekaligus merancang gagasan yang berguna bagi kehidupan sehari-hari.

Kehadiran dosen seperti Surni di ITBM Wakatobi menjadi gambaran bahwa pendidikan tinggi dapat dijangkau oleh generasi dari komunitas pesisir. Kisahnya berjalan seiring dengan harapan anak-anak Bajo untuk melanjutkan pendidikan dan membawa manfaat bagi daerahnya.

Baca Juga