Supertanker China Tetap Melintas, Namun Kapal Minyak di Bab el-Mandeb Kian Menipis

Dua supertanker berbendera Hong Kong tetap keluar dari Laut Merah menuju China ketika arus kapal di Selat Bab el-Mandeb menyusut tajam. New Explorer dan New Pearl masing-masing membawa dua juta barel minyak mentah dalam pelayaran menuju pelabuhan China.

Namun, perlintasan komoditas pada jalur tersebut hanya mencapai 11 kapal pada Minggu, 26 Juli 2026. Data Kpler menempatkan aktivitas itu sebagai yang terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Pelayaran Minyak Menuju Asia

KapalMuatanTujuan
New Explorer2 juta barel minyak Saudi dan UEANingbo, China
New Pearl2 juta barel minyak Arab SaudiZhoushan, China
Kapal tanker lain1 juta barel minyak RusiaChina
Kapal tanker lainSekitar 750.000 barel minyak Arab SaudiPakistan

New Explorer merupakan VLCC berbendera Hong Kong yang membawa minyak mentah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ke Ningbo. New Pearl juga berstatus VLCC berbendera Hong Kong dan berlayar menuju Zhoushan dengan minyak Arab Saudi.

New Pearl menjadi supertanker China keempat yang keluar dari kawasan sejak Houthi mengumumkan blokade laut. Associated Maritime Hong Kong, pengelola kedua kapal tersebut, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar di luar jam kerja.

Selain dua kapal itu, terdapat kapal yang membawa satu juta barel minyak mentah Rusia ke China. Kapal tanker lain membawa sekitar 750.000 barel minyak mentah Arab Saudi menuju Pakistan.

Arus Masuk dan Keluar Laut Merah

Dari 11 kapal komoditas yang melewati Selat Bab el-Mandeb, tujuh merupakan tanker minyak. Tiga kapal memasuki Laut Merah, sedangkan empat kapal keluar melalui selat yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden tersebut.

Dua kapal yang masuk adalah VLCC yang menuju Pelabuhan Yanbu. Keduanya disiapkan untuk memuat minyak mentah Arab Saudi.

ArahJenis KapalJumlah
Masuk Laut MerahVLCC menuju Yanbu2 kapal
Masuk Laut MerahKapal berafiliasi Rusia1 kapal
Keluar Laut MerahTanker minyak4 kapal

Satu kapal berafiliasi Rusia juga tercatat memasuki Laut Merah. Pergerakan ini berlangsung setelah serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah.

Serangan Aramco dan Tekanan Jalur Energi

Juru Bicara Militer Houthi Yahya Saree menyatakan kelompoknya menyerang fasilitas Aramco di Jizan dan Yanbu pada 25 Juli 2026. Houthi yang didukung Iran berupaya memblokade ekspor minyak Arab Saudi.

Gangguan Laut Merah telah berlangsung sejak pekan sebelumnya dan kini memperluas tekanan terhadap distribusi minyak global. Harga minyak fisik di Timur Tengah, Eropa, serta Afrika melonjak ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Tekanan pasokan juga belum reda di Selat Hormuz meski ketegangan AS-Iran disebut mulai mereda. Beritasatu.com yang mengutip Kpler mencatat kurang dari 10 kapal komoditas melintasi jalur itu setiap hari sepanjang akhir pekan.

Pada 24 Juli 2026, tujuh kapal melintasi Hormuz dan mayoritas keluar dari Teluk Persia, termasuk dua VLCC dari Irak dan Uni Emirat Arab. Sehari setelahnya, hanya tiga kapal melintas dengan transponder dimatikan.

Pada 26 Juli, jumlah perlintasan di Hormuz kembali mencapai tujuh kapal. Tiga di antaranya adalah tanker produk minyak berafiliasi Iran yang keluar dari selat tersebut.

Baca Juga