Sebuah suntikan obat sekitar pukul 08.00 dan istirahat selama kurang lebih satu jam mendahului pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada pukul 10.00 pagi. Rangkaian itu diperlukan karena Ir. Soekarno mengalami demam tinggi hingga 40 derajat Celsius pada pagi 17 Agustus 1945.
Dr. Raden Soeharto menangani Soekarno dengan memberikan suntikan obat dan penurun demam. Setelah itu, Soekarno beristirahat sebelum akhirnya terbangun pada pukul 09.00 untuk bersiap menghadapi prosesi.
Pagi dalam Kondisi Fisik yang Menurun
Kesehatan Soekarno pada saat itu melemah akibat malaria tertiana. Kondisi tersebut juga membuatnya tidak dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Demam datang setelah Soekarno begadang semalaman untuk merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Ketika pagi tiba, kebutuhan untuk memulihkan fisik menjadi bagian penting dari persiapan pembacaan naskah kemerdekaan.
Prosesi pembacaan kemudian dijadwalkan berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Pukul 10.00 memberi waktu yang cukup bagi Soekarno untuk menjalani perawatan dan mengumpulkan kembali tenaganya.
| Waktu | Rangkaian Peristiwa |
|---|---|
| Semalaman | Perumusan naskah proklamasi oleh Soekarno di rumah Laksamana Maeda. |
| Sekitar 08.00 | Dr. Raden Soeharto memberikan obat dan penurun demam. |
| 09.00 | Soekarno bangun setelah beristirahat sekitar satu jam. |
| Lima menit sebelum 10.00 | Mohammad Hatta tiba untuk persiapan akhir prosesi. |
Hatta Tiba Menjelang Pembacaan
Mohammad Hatta datang lima menit sebelum pukul 10.00 pagi. Kehadirannya mengantarkan persiapan ke tahap terakhir sebelum kedua proklamator memulai pembacaan teks kemerdekaan.
Waktu tersebut mempertemukan kesiapan tokoh utama dengan kebutuhan menyelesaikan prosesi secara teratur. Pembacaan Proklamasi akhirnya dapat dilakukan setelah Soekarno memperoleh kesempatan beristirahat.
Ada Perhitungan Keamanan
Penentuan pukul 10.00 juga tidak lepas dari situasi keamanan saat itu. Waktu pagi dipertimbangkan untuk menghindari patroli tentara Angkatan Darat Jepang.
Selain itu, pelaksanaan pada pagi hari dipilih agar acara tidak berlangsung saat cuaca Jakarta semakin terik. Faktor keamanan dan kondisi lokasi berjalan beriringan dengan pertimbangan kesehatan Soekarno.
Dengan demikian, jam pembacaan Proklamasi bukan sekadar penanda dimulainya upacara. Waktu itu terbentuk dari keadaan fisik proklamator, persiapan naskah yang berlangsung semalaman, serta kebutuhan menjaga kelancaran acara.
Soekarno tetap membacakan teks kemerdekaan meski pagi itu diawali kondisi tubuh yang tidak ideal. Perawatan medis dan jeda istirahat menjadi bagian penting yang memungkinkan prosesi tersebut berjalan pada pukul 10.00.
Waktu yang Dipertahankan
Pemerintah Indonesia masih mempertahankan pukul 10.00 pagi sebagai waktu pelaksanaan upacara Detik-Detik Proklamasi. Tradisi itu terus merujuk pada rangkaian persiapan serta situasi genting yang mengiringi pagi Proklamasi 1945.
Jam tersebut menjadi pengingat bahwa pembacaan teks kemerdekaan terjadi di tengah keterbatasan fisik Soekarno. Namun, pemulihan yang diperolehnya pada pagi hari memungkinkan ia menjalankan peran utama dalam momen bersejarah itu.






