Sungai Rhine di Jerman telah menyusut hingga melampaui rekor terendah yang tercatat pada 2018 di titik Kaub. Kondisi tersebut memaksa kapal kargo mengurangi muatan, sehingga biaya distribusi berisiko meningkat di salah satu jalur industri penting Eropa.
Gangguan pada pelayaran sungai terjadi ketika gelombang panas ekstrem terus melanda sejumlah negara Eropa. Air yang berkurang bukan hanya membatasi transportasi barang, tetapi juga menekan pembangkit listrik dan sektor pertanian.
Jalur Air Kehilangan Kapasitas
Kapal memerlukan kedalaman sungai yang cukup agar dapat mengangkut barang dalam kapasitas normal. Saat permukaan air turun, pengangkutan harus dilakukan dengan muatan lebih kecil meski kebutuhan distribusi industri tetap berjalan.
Rhine menjadi salah satu urat nadi transportasi industri di Eropa, sehingga penyusutannya memberi dampak langsung pada logistik. Tekanan serupa muncul di Bosnia dan Herzegovina, tempat debit Sungai Sava terancam mendekati rekor terendah karena tidak adanya presipitasi hujan.
| Lokasi | Perubahan yang Terjadi | Konsekuensi |
|---|---|---|
| Kaub, Jerman | Permukaan Rhine melewati rekor rendah 2018 | Muatan kapal kargo dikurangi |
| Bosnia dan Herzegovina | Debit Sava terancam sangat rendah | Tekanan pada ketersediaan air |
| Polandia | Vistula menyusut | Daya dua PLTU dipangkas 1,1 Gigawatt |
Permintaan Listrik Naik saat Air Berkurang
Surutnya Sungai Vistula di Polandia berdampak pada kemampuan pembangkitan listrik. Enea memangkas kapasitas dua pembangkit listrik tenaga batu bara sebesar 1,1 Gigawatt karena berkurangnya air yang diperlukan dalam operasi fasilitas.
Tekanan itu datang pada saat pemakaian pendingin ruangan meningkatkan kebutuhan listrik. Polskie Sieci Elektroenergetyczne sampai menerapkan langkah darurat pasokan listrik untuk ketiga kalinya selama musim panas.
Ketergantungan pembangkit terhadap air pendingin membuat kekeringan dapat mengganggu produksi energi ketika permintaan sedang naik. Dengan demikian, penyusutan sungai membentuk persoalan ganda bagi jaringan energi dan arus distribusi.
Pertanian Menghadapi Tekanan yang Sama
Di Belgia, panas berkepanjangan membuat ukuran sejumlah sayuran lahan terbuka lebih kecil dari biasanya. Brokoli, kembang kol, dan daun bawang termasuk komoditas yang terdampak.
Petani perlu menyiram tanaman secara intensif setiap hari untuk menjaga vegetasi tetap hidup. Kondisi ini memperbesar kebutuhan air di tengah cuaca yang kering.
Industri anggur Italia juga mengalami perubahan akibat musim yang lebih panas dan kering. Masa panen di beberapa daerah berlangsung lebih cepat daripada ritme normal.
Marco Caprai, produsen anggur dari Umbria, memperkirakan volume produksi wilayahnya dapat menyusut 5 hingga 10 persen di bawah rata-rata tahunan. Proyeksi tersebut menggambarkan dampak kekeringan terhadap hasil pertanian bernilai ekonomi.
Gelombang Panas Berulang Sejak Mei
WMO dan Layanan Perubahan Iklim Copernicus mencatat Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas dalam sejarah pencatatan suhu. Gelombang panas yang berlanjut pada Agustus menjadi yang keempat melanda sejumlah negara Eropa sejak Mei.
Italia diperkirakan menghadapi suhu 37 hingga 40 derajat Celsius di wilayah pedalaman, sekitar 7 derajat Celsius di atas rata-rata tahunan. Belgia bersiap menghadapi suhu hingga 35 derajat Celsius setelah Institut Meteorologi Belgia menerbitkan peringatan.
Austria, Hongaria, dan Slovakia dilaporkan mencatat sejumlah rekor suhu tertinggi sepanjang masa pada pekan pertama Agustus. Rekor panas tersebut memperjelas skala tekanan yang kini dirasakan oleh sungai, pembangkit listrik, transportasi, dan lahan pertanian.






