Bukan Sekadar Kesibukan, Stigma Juga Menghambat Skrining Kanker Pekerja Garmen

Stigma terhadap kanker dapat membuat pekerja perempuan ragu bertanya atau memeriksakan diri, bahkan ketika menemukan perubahan tubuh yang tidak biasa. Keraguan ini berisiko memperpanjang penundaan deteksi dini di tengah pekerjaan yang menuntut ritme cepat.

Masalah tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesibukan dan target produksi. Pemahaman yang belum memadai serta akses skrining yang terasa sulit juga dapat membuat kebutuhan kesehatan pribadi tidak menjadi prioritas.

Kanker Bisa Tidak Menunjukkan Gejala Awal

Kanker payudara dan kanker serviks sering tidak menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan berkala dan perhatian terhadap kondisi tubuh menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Pekerja tidak perlu menunggu keluhan berat sebelum berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan dapat membantu menemukan kelainan lebih cepat sehingga langkah lanjutan dan penanganan yang sesuai dapat segera dipertimbangkan.

Jenis KankerPerhatian Utama
Kanker PayudaraGejala awal dapat tidak jelas, sehingga perubahan tubuh perlu diperhatikan.
Kanker ServiksDeteksi dini dan pemeriksaan berkala diperlukan untuk menemukan kelainan.

Edukasi terbuka dapat membantu mengubah cara pandang terhadap kanker. Informasi yang tepat memungkinkan perempuan melihat kanker sebagai kondisi yang dapat dihadapi melalui tindakan dan dukungan yang sesuai.

Program Aloka dan Akses yang Lebih Dekat

MAS Arya Indonesia memperkenalkan Program Aloka pada 2019 sebagai upaya meningkatkan pemahaman karyawan tentang risiko kanker, peringatan dini, akses skrining, dan perawatan preventif. Tempat kerja dipilih sebagai ruang edukasi yang lebih dekat dengan keseharian pekerja.

Program tersebut dijalankan melalui kemitraan dengan Rumah Sakit Charlie Kendal sejak 2024. Kegiatannya mencakup sesi edukasi, pembelajaran praktis pemeriksaan mandiri, akses skrining, serta diskusi interaktif mengenai kesehatan dan kesejahteraan.

Suara.com memuat informasi bahwa Aloka telah memfasilitasi 2.907 karyawan sejak diterapkan dan jumlahnya terus bertambah. Kegiatan peningkatan kesadaran dan keterlibatan dalam program itu juga telah menjangkau seluruh karyawan perempuan di perusahaan.

Pendekatan berbasis tempat kerja dapat mengurangi hambatan yang muncul ketika pekerja harus mencari akses pemeriksaan di luar rutinitasnya. Informasi kesehatan pun dapat disampaikan tanpa selalu menunggu situasi layanan medis formal.

Lingkungan Aman untuk Bertanya

Assistant Manager Human Resources MAS Arya Indonesia, Francisca Vina Oktavia, mengatakan deteksi dini dapat memberi dampak berarti terhadap keberhasilan penanganan penyakit. “Melalui Aloka, kami ingin karyawan memiliki pengetahuan yang memadai, merasa didukung, serta lebih percaya diri untuk mengambil langkah proaktif dalam menjaga kesehatan mereka,” ujar Francisca Vina Oktavia.

Dukungan tersebut penting agar pekerja tidak menghadapi ketakutan dan kebingungan seorang diri saat mempertimbangkan pemeriksaan. Lingkungan yang aman untuk bertanya juga membantu perempuan mengambil keputusan kesehatan berdasarkan informasi yang akurat.

Chief Executive Officer MAS Arya Indonesia, Rajitha Kamalchandra, menempatkan kesadaran kesehatan sebagai bagian dari ketahanan lingkungan kerja. Ia menilai peningkatan perhatian terhadap kesehatan merupakan langkah bagi karyawan sekaligus bagian dari pembangunan tempat kerja yang lebih kuat dan tangguh.

Baca Juga