Stasiun Sudah Siap, Tantangan Bus Hidrogen Ada pada Armada dan Biaya Operasional

Ekosistem pengisian hidrogen yang disiapkan PLN dan Pertamina disebut telah siap digunakan. Namun, ketersediaan armada dan biaya operasional yang masih tinggi menjadi tantangan utama sebelum hidrogen dapat dipakai lebih luas pada transportasi publik.

PLN melihat bus TransJakarta sebagai salah satu peluang awal untuk penggunaan bahan bakar tersebut. Langkah ini juga dapat menyerap 125 ton hidrogen per tahun yang masih belum dimanfaatkan dari produksi pembangkit PLN.

Pengisian Hidrogen Telah Disiapkan

Direktur Utama PLN Darmawan menyatakan PLN telah bekerja sama dengan Pertamina untuk menyiapkan ekosistem pengisian hidrogen. Hydrogen Refueling Station didorong sebagai bagian dari rantai pasok kendaraan berbahan bakar hidrogen.

Menurut Darmawan, fasilitas pengisian telah siap, sedangkan kendaraan yang akan menggunakan hidrogen perlu disiapkan berikutnya. PLN telah membicarakan ketersediaan bus hidrogen dengan pabrikan dari Jepang, Jerman, dan China.

Jika pemerintah memutuskan penggunaan hidrogen di transportasi, PLN dan Pertamina menyatakan siap berkolaborasi menyediakan armada bus. Darmawan membayangkan pengembangan ini melibatkan Kementerian ESDM, PLN, dan Pertamina, baik untuk bahan bakar maupun kendaraan.

TransJakarta Menjadi Peluang Pasar Awal

PLN meminta dukungan Kementerian ESDM untuk membahas kemungkinan penggunaan hidrogen pada bus TransJakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penggunaan armada bus kota dapat menjadi pengujian pemanfaatan hidrogen dalam transportasi publik.

Gagasan ini disampaikan saat pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2026 di Jakarta pada 21 Juli 2026. Dorongan tersebut muncul karena PLN masih memiliki produksi hidrogen yang belum terserap kebutuhan internal.

Komponen Hidrogen PLNVolume per TahunPenggunaan
Total produksi200 tonHasil dari pembangkit listrik
Produksi yang dipakai75 tonSistem pendingin pembangkit
Produksi yang tersisa125 tonBelum dimanfaatkan

Produksi hidrogen PLN mencapai sekitar 200 ton per tahun, tetapi baru 75 ton yang digunakan untuk sistem pendingin pembangkit. Dengan demikian, terdapat surplus 125 ton yang dapat diarahkan ke sektor lain, termasuk transportasi.

Kendala Keekonomian Kendaraan Besar

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut biaya penggunaan hidrogen untuk kendaraan besar saat ini masih lebih mahal dibandingkan B50 non-subsidi. Kajian kementerian menunjukkan harga hidrogen masih berada di atas biaya bahan bakar tersebut.

Harga B50 non-PSO di sektor industri sekitar Rp18.600 per liter. Satu liter B50 pada bus besar dapat digunakan untuk jarak sekitar 3,5 hingga 4 kilometer.

Menurut Bahlil, perkembangan teknologi yang lebih efisien dapat mengubah posisi harga hidrogen. Ketidakpastian geopolitik dan tantangan mendapatkan minyak dari blok-blok baru juga menjadi bagian dari pertimbangannya.

“Tidak lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dibandingkan sumber-sumber BBM minyak lainnya,” ujar Bahlil dalam acara GHES 2026 di JICC Senayan, Jakarta. Ia menekankan bahwa efisiensi teknologi akan menentukan penerimaan pasar terhadap transisi bahan bakar hidrogen.

Sasaran dalam Peta Jalan Nasional

Peta jalan nasional hidrogen dan amonia menempatkan transportasi sebagai satu dari empat sektor pemanfaatan utama, selain industri, pembangkit listrik, dan komoditas ekspor. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan peta jalan itu memuat target dan tonggak terukur.

Rentang WaktuFaseArah Pengembangan
2025-2034Inisiasi, pengembangan, dan integrasiMembangun pemanfaatan awal
2045-2060Akselerasi dan keberlanjutanMenjadi pusat ekonomi hidrogen global

Pemerintah menyiapkan pemantauan dan evaluasi berkala dalam pelaksanaan peta jalan tersebut. Pengembangan pasar domestik, termasuk dari surplus produksi PLN, diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Baca Juga