Senator Richard Blumenthal memperingatkan penugasan USS Abraham Lincoln yang terlalu lama dapat meningkatkan risiko dalam pengoperasian kapal induk. Ia meminta pemerintah Amerika Serikat memastikan kebutuhan operasi saat ini tidak berubah menjadi krisis kesiapan armada pada masa depan.
Kekhawatiran itu muncul ketika kapal induk tersebut tetap berada dalam penugasan di Timur Tengah tanpa kepastian waktu kepulangan awak. Masa tugas yang diperpanjang turut diiringi laporan persoalan air, fasilitas, pasokan dasar, serta kesehatan mental pelaut.
Blumenthal meminta penjelasan langsung kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao. Pertanyaan utamanya adalah kemampuan Angkatan Laut menjaga tempo operasi sambil tetap melindungi kesejahteraan personel.
Menurut senator tersebut, pemeliharaan terjadwal dan kesiapan peralatan perlu berjalan seiring dengan kualitas hidup awak. Tuntutan operasi yang terus meningkat dinilai tidak dapat dipisahkan dari kondisi para pelaut yang mengoperasikan kapal.
Penugasan yang Terus Memanjang
USS Abraham Lincoln berlayar dari Pangkalan Angkatan Laut San Diego pada 21 November 2025. Penugasan itu semula direncanakan berlangsung selama tujuh bulan.
| Tahapan | Keterangan |
|---|---|
| Keberangkatan | Pangkalan Angkatan Laut San Diego, 21 November 2025 |
| Rencana awal | Penugasan selama tujuh bulan |
| Status berikutnya | Seharusnya berhenti berlayar pada Mei |
| Kondisi terkini | Penugasan diperpanjang tanpa kepastian waktu pulang |
Perpanjangan penugasan menjadi pusat permintaan klarifikasi kepada Pentagon dan Angkatan Laut Amerika Serikat. Blumenthal juga meminta penjelasan tentang kampanye militer berkepanjangan atau peningkatan kehadiran kapal induk di kawasan tersebut.
Ia secara khusus mempertanyakan tujuan militer penempatan USS Abraham Lincoln yang berkelanjutan dalam kaitannya dengan Iran. Pemerintah diminta menjelaskan dasar penilaian bahwa keberadaan kapal tersebut masih diperlukan di Timur Tengah.
Keluhan Dasar hingga Kesehatan Mental
Surat Blumenthal menyoroti laporan mengenai kekurangan pasokan dasar, kontaminasi air, dan masalah perpipaan. Ia juga meminta daftar persoalan kelayakan huni yang sudah diidentifikasi di atas kapal.
Daftar itu mencakup perlengkapan kebersihan, jamur, toilet, fasilitas laundry, serta pasokan air bagi awak. Keselamatan kerja di dek kapal ikut menjadi bagian dari perhatian yang perlu dijawab oleh pihak terkait.
Gangguan sistem pos turut disorot karena paket bantuan untuk pelaut dilaporkan hilang selama berbulan-bulan. Masalah tersebut menambah gambaran tekanan yang dihadapi awak dalam penugasan jauh dari pangkalan.
Perhatian menjadi lebih besar setelah ada laporan sejumlah pelaut mencoba melompat ke laut selama penugasan panjang. Laporan itu memunculkan kekhawatiran baru terhadap kesehatan mental awak dan kondisi kehidupan mereka di kapal.
“Laporan-laporan ini memerlukan perhatian segera, tetapi juga menimbulkan pertanyaan yang lebih luas: apakah Angkatan Laut dapat mempertahankan tempo operasional yang sekarang dituntut dari armada kapal induknya,” kata Blumenthal. Pernyataan tersebut dikutip CNN Indonesia dari Anadolu Agency.
Sorotan Senat kini tidak hanya mengarah pada kemampuan tempur kapal induk, tetapi juga batas ketahanan personel yang menjalankan misi. Penjelasan mengenai kondisi awak dan tujuan penugasan menjadi penting di tengah operasi USS Abraham Lincoln yang belum memiliki kepastian waktu berakhir.






