Jalan menuju Istana Negara bagi 76 anggota Paskibraka Nasional tidak berhenti pada kemampuan baris-berbaris dan fisik. Mereka juga melewati seleksi bertingkat serta perjuangan pribadi untuk mengatasi rasa ragu menjelang tugas pada 17 Agustus 2026.
Para anggota telah dikukuhkan pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Mereka akan bertugas dalam Upacara 17 Agustus 2026 sebagai perwakilan dari berbagai wilayah Indonesia.
Rasa Ragu yang Tidak Menghentikan Langkah
Angelica Theona Putri dari Jawa Timur mengaku sempat kehilangan rasa percaya diri dalam proses menuju tingkat nasional. Ia merasa minder ketika melihat peserta lain yang dinilainya lebih baik.
Keraguan itu sempat membuat Angelica meyakini bahwa dirinya tidak akan mampu melewati proses tersebut. Namun, ia berhasil melawan perasaan itu hingga akhirnya dikukuhkan sebagai anggota Paskibraka Nasional.
“Saya sendiri kurang percaya diri, sudah minder duluan melihat teman yang lebih baik dari saya. Saya sempat berpikir pasti tidak bisa. Ternyata, saya bisa melawan ketidakpercayaan diri itu dan berhasil,” kata Angelica.
Gladys Manuella Aibekob dari Papua Tengah mengalami situasi serupa saat mengejar kesempatan ke tingkat nasional. Ia memilih terus berusaha menghapus rasa ragu sambil menjaga kesiapan menjelang penugasan.
Kesiapan itu juga diwujudkan Gladys melalui perhatian pada kesehatan dan penampilan. Ia menjaga makan agar kondisi tubuh tetap terpelihara serta menyiapkan perlengkapan untuk tampil rapi.
“Awalnya saya ragu, namun saya terus berusaha dan mencoba untuk hilangkan rasa ragu itu,” ujar Gladys. Ia menambahkan, “Saya mulai jaga makan, Kak, supaya kesehatan saya tetap terjaga. Terus saya menyiapkan perlengkapan-perlengkapan saya agar tampil rapi dan baik.”
Tahap Panjang Sebelum Mencapai Tingkat Nasional
Keberhasilan para anggota tidak diperoleh melalui satu tahap seleksi. Muhammad Furqoen Hakim dari Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan bahwa proses dimulai dari lingkungan sekolah dan berlanjut hingga verifikasi pusat.
Seleksi juga dilakukan di tingkat kabupaten atau kota dan provinsi sebelum peserta masuk tahap berikutnya. Setiap jenjang mempersempit persaingan hingga terbentuk anggota yang akan bertugas pada upacara kenegaraan.
“Prosesnya banyak banget, Kak. Yang pertama itu dari proses seleksi sekolah, seleksi kabupaten, provinsi, dan juga verifikasi tingkat pusat kemarin,” ujar Furqoen.
| Anggota | Daerah Asal | Perjalanan Utama |
|---|---|---|
| Muhammad Furqoen Hakim | Kepulauan Bangka Belitung | Seleksi sekolah, kabupaten, provinsi, hingga pusat |
| Angelica Theona Putri | Jawa Timur | Melawan minder dan ketidakpercayaan diri |
| Gladys Manuella Aibekob | Papua Tengah | Menjaga kesehatan dan menyiapkan perlengkapan |
| Julita Rita Lestari | Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur | Membuka kembali wakil daerah di pusat setelah 15 tahun |
Catatan dari Kutai Kartanegara
Julita Rita Lestari membawa arti tersendiri bagi Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Daerah tersebut disebut tidak mengirim anggota ke tingkat pusat selama 15 tahun, sebelum Julita berhasil menembus seleksi.
Ia menyampaikan rasa bangga atas pencapaian tersebut setelah melalui proses yang tersedia pada tahun ini. Terpilihnya Julita menambah kisah keberagaman perjuangan anggota dari berbagai daerah.
“Saya juga bangga, kenapa? Karena akhirnya setelah 15 tahun Kabupaten Kutai Kartanegara tidak mengirimkan untuk ke tingkat pusat, akhirnya setelah dari 26 ini saya bisa terpilih, puji Tuhan sekali,” ungkap Julita.
Detikcom melaporkan seluruh 76 anggota telah resmi dikukuhkan di Istana Negara. Pengukuhan itu menegaskan kesiapan mereka untuk menjalankan tugas pengibaran bendera dalam peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi para anggota, tugas tersebut menjadi hasil dari latihan, seleksi, dan ketahanan mental yang ditempa sejak dari daerah asal. Pada hari upacara, mereka akan membawa nama daerah masing-masing dalam formasi nasional di Istana Negara.






