Selat Hormuz masih berada di bawah penguasaan Iran ketika Amerika Serikat terus menjalankan operasi militer di kawasan tersebut. Situasi di jalur utama pengiriman minyak dunia itu berlangsung bersamaan dengan lonjakan biaya perang AS hingga US$ 37,5 miliar.
Pengeluaran tersebut dihitung sampai 30 September 2026 dan setara sekitar Rp 675 triliun. Pentagon kini meminta tambahan dana kepada Kongres karena persediaan amunisi, peralatan, dan kebutuhan operasional pasukan terus tertekan.
Jalur Minyak Jadi Pusat Tekanan
AS dan Iran dilaporkan kembali melancarkan serangan setiap hari untuk menguasai kawasan strategis. Selat Hormuz menjadi titik penting karena menjadi salah satu koridor utama pengiriman minyak dunia.
Pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan peluang diplomasi masih terbuka. Namun, Iran belum melonggarkan kendali atas koridor pelayaran tersebut.
Trump mengancam memperluas sasaran serangan ke fasilitas energi, jembatan, pusat minyak di Pulau Kharg, dan lokasi nuklir bawah tanah Gunung Pickaxe. Kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran belum dijelaskan oleh pemerintah AS.
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengakui operasi udara memiliki keterbatasan untuk memenangkan perang besar. Ia menyatakan keunggulan AS harus mengandalkan perpaduan instrumen diplomatik, informasi, ekonomi, dan militer.
Permintaan Pendanaan Meningkat
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan nilai pengeluaran perang saat bersaksi di hadapan Komite Alokasi Senat AS pada Selasa, 21 Juli 2026. Pentagon belum merinci metode penghitungan biaya US$ 37,5 miliar itu.
Hegseth meminta tambahan pendanaan US$ 87,6 miliar untuk mempertahankan kesiapan pasukan dan memulihkan kemampuan tempur. Permintaan itu mencakup pengadaan amunisi, peningkatan produksi persenjataan, gaji, bahan bakar, serta penggantian peralatan.
| Komponen | Nilai | Fungsi |
|---|---|---|
| Biaya operasi hingga 30 September 2026 | US$ 37,5 miliar | Operasi militer dan kebutuhan konflik |
| Tambahan dana Pentagon | US$ 87,6 miliar | Pemulihan kemampuan tempur AS |
| Amunisi dan produksi persenjataan | US$ 46 miliar | Menambah stok serta kapasitas produksi |
| Gaji, bahan bakar, dan peralatan | US$ 21 miliar | Menopang operasi pasukan |
Enam hari pertama operasi pada Maret diperkirakan sudah menghabiskan setidaknya US$ 11,3 miliar. Angka itu disampaikan sumber yang mengetahui pembahasan internal pemerintah kepada Reuters.
Gedung Putih sebelumnya mengajukan hampir US$ 90 miliar dana tambahan kepada Kongres untuk operasi di Iran dan pengisian ulang persediaan Pentagon. Partai Republik juga mendorong paket sekitar US$ 95 miliar yang meliputi pendanaan militer, bantuan pertanian, dan prioritas kebijakan pemerintahan Trump.
Selain itu, Hegseth meminta persetujuan anggaran pertahanan US$ 1,5 triliun untuk tahun anggaran 2027. Ia memperingatkan bahwa tanpa dana baru, pelatihan militer dapat dikurangi dan kebutuhan penting Pentagon berpotensi mengalami kekurangan kritis.
Kongres Menuntut Strategi yang Lebih Jelas
Permintaan anggaran besar itu memicu perdebatan sengit di Senat. Senator Kirsten Gillibrand dari Partai Demokrat menilai pemerintah menyampaikan pesan yang berubah-ubah mengenai status perang.
Gillibrand mempertanyakan kebutuhan anggaran pertahanan US$ 1,5 triliun ketika pemerintah menyatakan kemampuan militer Iran telah dilemahkan. Senator Jon Ossoff juga menyoroti pernyataan Hegseth beberapa bulan sebelumnya terkait kekuatan tempur Iran.
Hegseth mengatakan pernyataannya tidak pernah berarti Iran kehilangan seluruh kemampuan militer. Ia berpendapat ancaman yang berkembang membuat kebutuhan pendanaan besar tetap relevan.
Senator Gary Peters menuduh Pentagon meminta “cek kosong” tanpa strategi jangka panjang yang jelas. Hegseth membantah tuduhan itu dan menyebut penilaian bahwa operasi AS gagal sebagai tindakan ceroboh serta tidak bertanggung jawab.
Jumlah Korban Bertambah
Konflik juga menambah korban di kalangan personel AS. Selama akhir pekan, jumlah personel yang tewas dilaporkan menjadi 18 orang dan sekitar 430 lainnya mengalami luka-luka.
Pentagon menyatakan hampir 100 anggota militer cedera sejak 7 Juli dan sekitar 96% telah kembali bertugas. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa korban luka sebenarnya telah melampaui 500 orang, sedangkan DCAS saat itu mencatat 482 orang.
Korban terbaru yang diidentifikasi adalah Sersan Angel S Rampersad, 28 tahun, asal Ozone Park, New York. Tyler James Feehan dan Isabella Gonzales sebelumnya diumumkan gugur akibat serangan rudal balistik serta drone Iran terhadap pangkalan militer di Yordania.
Centcom menyebut ketiganya sedang menjalankan misi mendukung operasi melawan ISIS saat serangan terjadi. Pentagon menjelaskan perbedaan data korban dapat terjadi karena pembaruan dalam sistem pelaporan resmi memerlukan waktu.






