Sampah Rumah Tangga di Bantul Diubah Jadi Telur hingga Furnitur, Pendapatan Capai Rp98 Juta

Sampah rumah tangga yang masuk ke TPS 3R GO-SARI di Guwosari, Pajangan, Bantul, tidak berhenti sebagai limbah buangan. Sebagian material diolah menjadi kompos, maggot, telur, serta eco furniture yang memiliki nilai jual.

Rangkaian pengolahan itu menghasilkan pendapatan sekitar Rp98 juta per bulan. Dalam sehari, fasilitas berbasis warga ini menangani 3 hingga 3,5 ton sampah dari sekitar 1.500 rumah tangga.

Empat Kategori untuk Menentukan Jalur Olah

Setiap sampah yang diterima dipilah ke dalam kategori bosok, rosok, popok, dan bodongkok. Pemilahan tersebut menjadi tahap awal agar warga dan petugas dapat menentukan jenis penanganan yang dibutuhkan.

Limbah organik diproses menjadi kompos dan digunakan untuk mendukung budidaya maggot Black Soldier Fly. Maggot hasil budidaya kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pakan ayam petelur.

TPS ini memelihara 458 ayam petelur dengan produksi sekitar 27 kilogram telur per hari. Sementara itu, limbah plastik HDPE diolah menjadi meja, kursi, rak, dan pot bunga.

Hasil PengolahanData atau Bentuk Produk
Limbah organikKompos dan budidaya maggot Black Soldier Fly
MaggotPakan ternak dan ayam petelur
Ayam petelur458 ekor
Produksi telurSekitar 27 kilogram per hari
Plastik HDPEMeja, kursi, rak, dan pot bunga
Pendapatan fasilitasSekitar Rp98 juta per bulan

Pengolahan plastik turut melibatkan kelompok lansia dan warga binaan Rutan Kelas IIB Bantul. Kegiatan ini memperluas manfaat ekonomi dari material yang sebelumnya berpotensi menjadi residu.

Peran TPS Setelah Penutupan TPA Piyungan

Kebutuhan pengolahan dari sumber menguat seiring peningkatan volume limbah rumah tangga dan penutupan TPA Piyungan. Warga Guwosari menjalankan TPS 3R GO-SARI untuk mengurangi sampah yang harus dibuang sekaligus menciptakan nilai ekonomi.

Fasilitas ini mempekerjakan 27 tenaga kerja lokal. Salah satunya adalah Ardian Sajidanto, yang telah bekerja hampir 2,5 tahun dan menyebut pendapatannya membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membeli susu anak.

Layanan operasional juga didukung aplikasi Gosari Lestari. Aplikasi tersebut digunakan untuk transaksi layanan sampah, tabungan sampah anorganik, dan pemasaran produk olahan.

PLTS Membantu Menjaga Operasional

Pada 2026, kegiatan pengolahan diperkuat dengan pemasangan PLTS berkapasitas 6,6 kWp dan baterai 10 kWh. Pasokan energi bersih ini digunakan untuk kebutuhan daya mesin pengolahan sampah.

Menurut Hendry, pengelola Local Hero Program DEB GO-SARI Rehabcycle sekaligus TPS 3R GO-SARI, biaya listrik turun hingga sekitar 60 persen setelah sistem itu digunakan. Pengeluaran bulanan yang sebelumnya Rp3,5 juta sampai Rp4 juta menjadi sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.

"Dengan dibantu PLTS, kebutuhan listrik kami bisa dihemat sampai sekitar 60 persen. Teman-teman juga tetap bisa bekerja ketika terjadi pemadaman listrik," ujar Hendry.

PT Pertamina Patra Niaga mendampingi program tersebut sejak 2022 melalui kegiatan CSR. Pada 12 Agustus 2026, perusahaan menyerahkan secara simbolis dukungan PLTS Program Desa Energi Berdikari dan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi para pekerja.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, menyatakan tujuan pendampingan adalah memperkuat kemandirian pengelola. Pada kegiatan yang sama, Pertamina menyalurkan 771 paket sembako untuk warga prasejahtera di sekitar lokasi program.

"Kita tentunya tidak ingin setelah Pertamina pergi, program yang sudah sangat bagus ini berlalu begitu saja. Sehingga kami tidak hanya memberikan program CSR, tetapi juga memandirikan mereka," ujar Taufik dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2026).

Baca Juga