Risiko Pasokan Membesar di Timur Tengah, WTI Naik 4 Persen ke US$87,71

WTI melonjak 4 persen menjadi US$87,71 per barel saat pasar energi menghadapi risiko pasokan yang membesar di Timur Tengah. Harga Brent juga menguat 3,7 persen hingga mencapai US$94,40 per barel pada Jumat pagi waktu setempat.

Pergerakan tajam itu menunjukkan pelaku pasar menaruh perhatian pada keamanan distribusi minyak mentah. Ketegangan militer dan ancaman terhadap rute ekspor membuat pasokan energi global berada dalam tekanan.

PatokanHarga per BarelKenaikan
WTIUS$87,714 persen
BrentUS$94,403,7 persen

Ancaman terhadap Ekspor Arab Saudi

Milisi Houthi di Yaman mengancam melumpuhkan jalur penting bagi ekspor minyak Arab Saudi. Ancaman tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa arus minyak mentah ke negara-negara konsumen dapat terganggu.

Arab Saudi memegang peran penting dalam pasokan minyak ke pasar internasional. Karena itu, gangguan pada jalur ekspornya dapat segera memengaruhi perhitungan investor mengenai ketersediaan minyak global.

Keamanan jalur pelayaran menjadi perhatian karena rantai pasok energi bergantung pada kelancaran distribusi lintas kawasan. Potensi blokade atau gangguan dari kelompok bersenjata dapat menambah tekanan pada perdagangan minyak mentah.

Pasar tidak hanya menilai volume produksi, tetapi juga kemampuan minyak mencapai tujuan pengiriman. Dalam kondisi konflik, perubahan situasi keamanan dapat memicu reaksi harga dalam waktu cepat.

Konflik Belum Menunjukkan Tanda Reda

Lonjakan harga terjadi setelah Amerika Serikat melakukan serangan udara selama 11 malam berturut-turut terhadap sejumlah target militer strategis Iran. Suara.com melaporkan, dengan mengutip CNN Internasional, bahwa serangan itu menyasar berbagai target militer milik Iran.

Konflik di Timur Tengah kerap mengguncang pasar minyak karena kawasan tersebut memiliki titik-titik penting dalam jalur perdagangan energi. Eskalasi antara AS dan Iran membuat pasar mencermati kemungkinan gangguan yang lebih luas.

Analis Deutsche Bank menilai kenaikan harga terbaru terjadi ketika serangan antara kedua negara belum memperlihatkan tanda-tanda mereda. Mereka juga belum melihat tanda konkret mengenai kesepakatan damai yang dapat menurunkan ketegangan.

“Pergerakan harga minyak terbaru ini terjadi saat serangan antara AS dan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dan belum ada tanda-tanda konkret mengenai kesepakatan damai,” tulis analis Deutsche Bank dalam sebuah catatan.

Diplomasi Menjadi Penentu

Perkembangan diplomasi akan berpengaruh terhadap seberapa lama pasar memasukkan risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Tanpa jalur perundingan yang efektif, tekanan dari pertempuran udara dan ancaman di laut dapat terus berlanjut.

Investor kini memantau perkembangan konflik serta keamanan rute pengiriman energi. Selama risiko terhadap ekspor Arab Saudi dan ketegangan AS-Iran masih tinggi, harga Brent dan WTI berpotensi tetap bergejolak.

Baca Juga