Potensi kebakaran hutan dan lahan menjadi perhatian ketika delapan provinsi berada pada peringatan dini kekeringan meteorologis kategori Awas. Ancaman ini menguat bersamaan dengan El Nino berkategori sangat kuat dan meluasnya musim kemarau di Indonesia.
Delapan provinsi yang masuk status Awas adalah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Peringatan tersebut berlaku pada Dasarian II Agustus 2026 atau 11-20 Agustus.
Respons Didorong untuk Mencegah Karhutla
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan penanganan potensi kekeringan ditempuh melalui Operasi Modifikasi Cuaca di beberapa wilayah prioritas. BMKG juga melakukan penggalangan respons cepat yang terintegrasi guna mencegah peningkatan kebakaran hutan dan lahan.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Dr. A. Fachri Radjab mengingatkan bahaya kekeringan dan karhutla di wilayah yang cenderung lebih kering selama puncak kemarau. Pada saat yang sama, masyarakat perlu tetap mengantisipasi hujan lebat dan angin kencang ketika masa peralihan menuju musim hujan dimulai.
Peringatan dini kekeringan meteorologis memiliki tiga tingkat, yakni Waspada, Siaga, dan Awas. Kategori Awas berarti daerah tersebut memerlukan perhatian lebih besar terhadap risiko berkurangnya curah hujan dan ketersediaan air.
Sinyal Iklim Berasal dari Pasifik dan Samudra Hindia
BMKG mencatat SSTA region Nino3,4 mencapai +2,77 pada Dasarian I Agustus 2026. Angka ini menandakan El Nino sangat kuat, sementara lembaga tersebut memperkirakan fenomena itu dapat bertahan hingga kuartal pertama 2027.
| Parameter | Nilai Dasarian I Agustus 2026 | Keterangan |
|---|---|---|
| Indeks IOD | +0,457 | Indikator laut-atmosfer yang dipantau BMKG |
| SSTA region Nino3,4 | +2,77 | Menandakan El Nino berkategori sangat kuat |
Potensi kering dapat semakin besar apabila IOD Positif aktif pada September hingga Desember 2026. Kombinasi IOD Positif dan El Nino berpotensi memperpanjang tekanan terhadap wilayah yang sudah berada dalam musim kemarau.
Kepala Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama BMKG RR. Rima Eryani membantah informasi media sosial yang menyatakan peluang El Nino sangat kuat relatif kecil pada paruh kedua 2026. Klarifikasi tersebut disampaikan melalui Surat Nomor e.B/HM.02.00/015/KRH/VIII/2026.
Kemarau Meluas hingga 535 Zona Musim
Pada Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim telah memasuki periode kering. Agustus juga menjadi puncak kemarau bagi 48,84 persen daratan Indonesia.
Wilayah puncak kemarau mencakup Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta Papua. Luasnya cakupan tersebut meningkatkan kebutuhan pemantauan sumber air dan kondisi cuaca di daerah rawan.
Pasokan Air dan Pertanian Ikut Terpengaruh
Ketua Tim Pakar PPI ITB Dr. Tri Wahyu Hadi menjelaskan El Nino di Samudra Pasifik dapat mengurangi pasokan uap air ke sebagian Indonesia. Dampaknya dapat menjalar ke produksi pertanian, air sungai dan waduk, pembangkitan listrik tenaga air, serta risiko karhutla.
Elza Sumarni dari PPI ITB dan BRIN menyebut penurunan produksi padi nasional akibat El Nino pada periode 1990-2024 berada pada kisaran 0,5 juta hingga 1,7 juta ton. Besar kecilnya dampak bergantung pada kondisi pertanian dan kapasitas adaptasi di tiap wilayah.
Peneliti PPI ITB Fikry Purwa Lugiana menyatakan kekeringan dapat menurunkan kelembapan tanah, aliran permukaan, dan pengisian air tanah. Penguatan sistem informasi cuaca-iklim, penyesuaian kalender tanam, varietas toleran kekeringan, efisiensi air, dan diversifikasi tanaman dapat membantu menekan risiko.






