Dari Resor Eksklusif ke Deretan Kastel Sunyi, Nasib 587 Vila di Mudurnu

Deretan vila putih bergaya château di perbukitan Mudurnu, Turki, kini lebih mirip kota kastel sunyi daripada resor eksklusif. Sekitar 587 bangunan di Burj Al Babas berdiri kosong karena proyek hunian mewah tersebut tidak pernah selesai.

Kawasan itu sebenarnya dirancang untuk memikat pembeli kaya, khususnya dari negara-negara Teluk. Pemandangan pegunungan dan hutan di sekitar lokasi menjadi bagian dari tawaran hunian liburan yang tenang.

Di balik fasad yang menyerupai kastel Eropa, banyak bangunan masih menyimpan pekerjaan yang belum rampung. Material konstruksi, ruangan kosong, serta interior yang belum selesai menunjukkan bahwa unit-unit itu tidak pernah benar-benar siap digunakan.

Anggapan bahwa kawasan tersebut ditinggalkan penghuni tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Vila-vila ini kosong sejak awal karena utilitas dan infrastruktur penting belum dapat diselesaikan.

AspekInformasiStatus
PengembangSarot GroupAjukan perlindungan kebangkrutan pada 2018
Awal pembangunan2014Berhenti di tengah jalan
Nilai proyekSekitar US$200 juta atau Rp3,58 triliunTidak selesai
Jumlah vila yang dibangun sebagianSekitar 587 unitBelum dihuni

Sarot Group memulai proyek ini dengan target 732 vila. Setiap unit dirancang memakai tampilan kastel Eropa, tetapi tetap menawarkan fasilitas modern untuk membangun suasana resor premium.

Harga per vila dipasarkan pada kisaran US$370.000 hingga US$530.000. Menurut CNBC Indonesia yang mengutip Times of India, sekitar 350 vila sempat terjual sebelum tekanan keuangan membuat proyek tersendat.

Rencana Burj Al Babas juga jauh lebih luas daripada sekadar perumahan. Pengembang menyiapkan pusat perbelanjaan, restoran, pemandian khas Turki, spa, fasilitas olahraga, dan area hiburan sebagai penunjang kawasan.

Fasilitas-fasilitas tersebut tidak pernah terwujud setelah pembangunan dihentikan. Jalan internal memang sudah terbentuk, tetapi pusat kegiatan dan prasarana utama yang dijanjikan tidak diselesaikan.

Perlambatan ekonomi Turki menjadi salah satu faktor yang menekan proyek tersebut. Ketidakstabilan nilai tukar, berkurangnya minat investor asing, dan kenaikan biaya konstruksi membuat utang perusahaan membesar.

Pada 2018, pengembang mengajukan perlindungan kebangkrutan dan pembangunan berhenti. Nilai proyek yang mencapai sekitar US$200 juta atau Rp3,58 triliun pun tidak menghasilkan kawasan hunian yang siap beroperasi.

Kondisi ini menciptakan pemandangan yang menarik bagi fotografer, pembuat film drone, dan penjelajah bangunan terbengkalai. Barisan kastel identik itu juga sering muncul dalam dokumenter, liputan perjalanan, serta unggahan media sosial.

Setelah kebangkrutan, pihak yang terkait dengan pengembang sempat berharap sebagian proyek dapat diteruskan melalui restrukturisasi keuangan. Namun, belum ada kepastian apakah kawasan Properti di Mudurnu itu akan dilanjutkan, dikembangkan ulang, atau tetap kosong.

Baca Juga