Dari Kamar Kos ke Kyoto, Prass Membawa Kisah Berdamai dalam EP Free as a Bird

Prass akan menggelar pertunjukan perdana di Kyoto, Jepang, pada 29 Juli 2026, tidak lama setelah merilis EP Free as a Bird. Mayoritas materi akan tetap dibawakan dalam bahasa Indonesia karena ia meyakini bahasa ibu memiliki kekuatan emosional bagi pendengar lintas budaya.

Panggung Kyoto menjadi kelanjutan dari rilisan enam lagu yang beredar di berbagai platform streaming digital pada 24 Juli 2026. EP tersebut merekam perjalanan Prass untuk menghadapi ketakutan, kehilangan, dan beban masa lalu.

Proyek Independen dengan Rekaman Organik

Di balik EP ini, Prass menghadapi persoalan yang lazim dialami musisi independen, yakni biaya produksi dan pembagian waktu dengan pekerjaan penuh waktu. Dukungan teman-teman dekat yang disebutnya sebagai “barudak” membantu proyek itu dapat diselesaikan.

Hilmi Adriansyah berperan sebagai produser dan mendampingi proses pengembangan materi sejak demo hingga mastering. Perekaman dilakukan secara organik di Binaural Studio, Ardan Studio, dan kamar kos pribadi.

Bantuan dari orang-orang di sekitar Prass turut menjaga anggaran produksi agar tidak membengkak. Dukungan tersebut juga menjadi dorongan baginya untuk melanjutkan perjalanan bermusik.

Prass memulai karier musiknya pada 2023. Sebelum EP lengkapnya hadir, ia telah memperkenalkan lagu Free as a Bird dan Pada Akhirnya Kita kan Mati sebagai singel pembuka.

Berangkat dari Proses Pemulihan

Gagasan Free as a Bird lahir pada 2023 saat seorang psikolog menyarankan Prass melakukan pencatatan harian untuk membantu pemulihan diri. Ia lalu memilih musik sebagai tempat untuk merekam pertanyaan, ketakutan, serta pelajaran yang hadir dalam proses tersebut.

Hipnoterapi juga menjadi bagian dari pengalamannya dalam belajar menerima diri dan melepaskan beban masa lalu. Pengalaman itu diterjemahkan ke lirik personal tanpa menempatkan masa lalu sebagai sesuatu yang harus dihapus.

Dalam keterangan resminya, Prass menyebut EP ini bukan tentang melupakan masa lalu, melainkan berdamai dengannya. Ia berharap lagu-lagunya dapat menemani orang yang tengah berjuang dan mengingatkan bahwa setiap akhir membuka kemungkinan untuk memulai kembali.

Warna musik yang dipilih memadukan country, balada, americana, dan bluegrass. Perpaduan tersebut menjadi wadah bagi cerita yang sangat personal, tetapi tetap diarahkan untuk dapat dirasakan pendengar lain.

Rangkaian Lagu tentang Penerimaan

Enam trek dalam EP disusun menjadi narasi emosional, bukan berdiri sebagai lagu-lagu yang terpisah. Alurnya bergerak dari pencarian arti hidup hingga fase menerima dan membebaskan diri.

LaguMakna dalam EP
What If…Pertanyaan tentang makna hidup dan eksistensi
WorthyPelepasan keterikatan emosional
Pada Akhirnya Kita kan MatiMenghargai waktu bersama orang terdekat
Long Winding RoadMenerima perjalanan hidup yang panjang
Keep Fire in Your SoulMenjaga harapan dalam perjalanan
Free as a BirdSimbol kebebasan setelah berdamai dengan masa lalu

What If… menjadi pembuka yang mengangkat pencarian makna hidup dan eksistensi. Lagu berikutnya, Worthy, mengarahkan cerita pada usaha melepaskan keterikatan emosional.

Pada Akhirnya Kita kan Mati dipilih sebagai fokus utama EP. Pesan utamanya bukan mengenai keputusasaan, melainkan ajakan untuk menjalani masa kini dan menghargai orang-orang terdekat.

Perjalanan berlanjut melalui Long Winding Road, yang berbicara mengenai penerimaan terhadap jalan hidup. Keep Fire in Your Soul kemudian mengingatkan pendengar untuk terus memelihara harapan.

Lagu penutup Free as a Bird menjadi simpul dari seluruh cerita. Bagi Prass, penerimaan berarti tetap melangkah ke depan tanpa harus menyangkal pengalaman yang pernah terjadi.

Setelah perilisan, Prass menyiapkan promosi lewat konten penceritaan dan video sesi langsung. Agenda di Kyoto akan menjadi kesempatan awal untuk membawa narasi Free as a Bird kepada pendengar di luar Indonesia.

Baca Juga