Beras tidak selalu tersedia bagi pejuang pada masa perjuangan kemerdekaan. Saat hasil panen rakyat disita pada masa penjajahan dan logistik terbatas, bahan pangan dari kebun, pekarangan, ladang, hingga hutan menjadi penyangga kebutuhan makan.
Pilihan makanan itu memiliki satu kesamaan, yakni mudah diperoleh dan dapat memberi rasa kenyang. Sebagian diolah menjadi pengganti nasi, sementara lainnya dibuat sebagai kudapan yang praktis dibawa dalam perjalanan.
| No. | Bekal | Asal Bahan | Kegunaan |
|---|---|---|---|
| 1 | Nasi oyek | Singkong | Bekal pengganti nasi |
| 2 | Nasi jagung | Jagung | Karbohidrat alternatif |
| 3 | Janeng | Umbi liar hutan | Pengganti nasi |
| 4 | Leughok | Ketan, pisang kepok, sagu | Kudapan tahan simpan |
| 5 | Ketan Jompo Jember | Ketan dan kelapa | Bekal energi |
| 6 | Ubi, singkong, pisang rebus | Kebun dan pekarangan | Pangan cepat olah |
1. Nasi Oyek
Nasi oyek menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana singkong menggantikan peran beras. Singkong diolah menjadi butiran menyerupai nasi dan kemudian dikukus sebelum dikonsumsi.
Makanan ini dikenal sebagai bekal pasukan gerilya Jenderal Soedirman pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Saat persediaan makanan di hutan Kediri habis, Soepardjo Rustam mendapatkan nasi oyek dari warga setempat untuk dibawa kepada pasukan.
2. Nasi Jagung
Jagung menjadi alternatif saat padi sulit diakses dan harga beras mahal. Masyarakat dapat menanam serta memperoleh jagung dengan lebih mudah untuk diolah menjadi nasi jagung.
Nasi jagung biasa disantap bersama sambal terasi dan bakwan jagung. Kehadirannya menunjukkan bahwa sumber karbohidrat lokal dapat mengisi kekosongan pasokan beras.
3. Janeng
Janeng merupakan umbi liar berduri yang tumbuh merambat di hutan Aceh. Bahan ini ditumbuk, dikukus, lalu disantap dengan taburan parutan kelapa.
Karena mengenyangkan, janeng dimanfaatkan sebagai bekal pengganti nasi. Pilihan ini memperlihatkan pemanfaatan bahan pangan yang tersedia langsung dari lingkungan sekitar.
4. Leughok
Leughok dibuat dari tepung ketan, pisang kepok, dan sagu. Kudapan khas Aceh ini dipilih untuk mengganjal rasa lapar selama berada di perjalanan.
Daun pisang digunakan untuk membungkusnya secara rapat agar leughok tidak cepat basi. Cara tersebut memberi bentuk pengawetan alami yang sesuai bagi bekal dalam situasi perang.
5. Ketan Jompo Jember
Ketan Jompo Jember menggabungkan beras ketan dengan kelapa parut. Sebelum perang berkecamuk, hidangan khas Jember ini disebut hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan.
Keadaan perang mengubah peran makanan tersebut menjadi bekal bernutrisi bagi pejuang di garis depan. Peralihan itu menunjukkan bahwa sajian yang dahulu eksklusif dapat menjadi kebutuhan penopang tenaga.
6. Ubi Kukus, Singkong, dan Pisang Rebus
Ubi kukus, singkong, dan pisang rebus termasuk pangan sederhana yang mudah didapat dari kebun serta pekarangan warga. Ketiganya juga tidak memerlukan banyak bahan tambahan untuk diolah.
Ubi kukus mengandung vitamin C, vitamin B kompleks, dan fosfor, sementara singkong rebus menjadi pengganti karbohidrat yang memberi rasa kenyang lebih lama. Pisang rebus menyediakan sumber energi yang mudah dicerna.
Beautynesia mencatat sejumlah sajian ini dalam kisah perjuangan di berbagai daerah Indonesia, dari Jawa hingga Aceh. Makanan sederhana tersebut menegaskan bahwa ketahanan pejuang dibantu oleh bahan lokal dan keterampilan mengolah apa yang tersedia.






