Liberia tercatat sebagai republik demokratis pertama dalam sejarah Afrika setelah menyatakan kemerdekaan pada 26 Juli 1847. Namun, kedudukan bersejarah itu tidak membuat negara tersebut bebas dari tekanan politik maupun konflik berkepanjangan.
Dalam perjalanan berikutnya, Liberia mengalami perang saudara dari 1989 hingga 1997 yang menelan banyak korban. Kontras ini memperlihatkan bahwa lahirnya sebuah republik tidak selalu menjamin stabilitas politik yang bertahan lama.
Dukungan Luar Negeri dan Pengakuan Diplomatik
Setelah merdeka, Liberia mengadopsi konstitusi yang mengikuti konstitusi Amerika Serikat. Joseph Jenkins Roberts terpilih sebagai presiden pertama pada 1848.
Meski memiliki keterkaitan kuat dengan Amerika Serikat, pengakuan diplomatik dari negara tersebut tidak datang segera. Amerika Serikat baru memberikan pengakuan resmi pada 1862.
Menurut catatan yang dikutip Liputan6 dari History.com, Amerika Serikat sempat enggan menerima kedaulatan Liberia. Tekanan dari Inggris kemudian ikut mendorong penerimaan terhadap kemerdekaan negara di Afrika Barat itu.
Liberia juga membantu Inggris dalam upaya menghentikan perdagangan budak ilegal di Afrika Barat setelah kemerdekaan. Dukungan Amerika Serikat pada masa berikutnya membantu negara itu mempertahankan kemerdekaannya ketika menghadapi tekanan dan gejolak sepanjang abad ke-20.
| Tahun/Periode | Catatan Sejarah |
|---|---|
| 1816 | Robert Finley mendirikan American Colonization Society. |
| 1820 | Kelompok pertama mantan budak dari AS tiba di Sierra Leone. |
| 1821 | Koloni Liberia didirikan di selatan Sierra Leone. |
| 26 Juli 1847 | Liberia menyatakan kemerdekaan. |
| 1848 | Joseph Jenkins Roberts terpilih sebagai presiden pertama. |
| 1862 | Pengakuan diplomatik resmi dari Amerika Serikat. |
Akar Negara dari Koloni
Sebelum menjadi negara merdeka, Liberia merupakan koloni yang dibentuk oleh American Colonization Society. Organisasi yang didirikan Robert Finley pada 1816 ini bertujuan memulangkan warga Afrika-Amerika, termasuk mantan budak, ke Afrika.
Kelompok pertama mantan budak dari Amerika Serikat tiba di koloni Inggris Sierra Leone pada 1820. Setahun kemudian, koloni Liberia didirikan di sebelah selatan Sierra Leone, di luar yurisdiksi Inggris.
Pemukiman tersebut menjadi bagian dari gagasan untuk memindahkan orang-orang keturunan Afrika yang sebelumnya diperbudak di Amerika Serikat ke pesisir Afrika Barat. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi fondasi terbentuknya Liberia.
Penolakan Tidak Menghentikan Pemukiman
Gagasan kolonisasi ini sejak awal menimbulkan perdebatan di Amerika Serikat. Para abolisionis mengecam pemindahan mantan budak ke Afrika karena memandang kebijakan itu dapat memperkuat keberadaan perbudakan di Amerika.
Banyak warga Amerika keturunan Afrika juga tidak ingin meninggalkan tanah air mereka. Mereka harus mempertimbangkan perpindahan ke wilayah pesisir Afrika Barat yang disiapkan sebagai tempat tinggal baru, tetapi dikenal memiliki kondisi keras.
Walaupun mendapat penolakan, perpindahan tetap berjalan selama beberapa dekade. Antara 1822 hingga Perang Saudara Amerika, sekitar 15.000 warga Afrika-Amerika menetap di Liberia.
Setelah perang saudara berakhir pada 1997, Charles Taylor terpilih sebagai presiden melalui pemilihan umum. Sejarah Liberia sejak 1847 tetap menjadi penanda penting bagi politik Afrika, sekaligus gambaran tentang panjangnya tantangan dalam mempertahankan sebuah republik.






