Di Balik Rating Tertinggi UOB Indonesia, Ada Posisi Risiko yang Berbeda

Program obligasi berkelanjutan V UOB Indonesia memperlihatkan dua tingkat risiko dalam satu penerbit. Obligasi senior memperoleh AAA(idn), sedangkan obligasi subordinasi mendapat AA(idn) dari Fitch Ratings Indonesia.

Selisih tersebut bukan terjadi karena perbedaan nilai program atau penerbitan awal. Masing-masing program bernilai Rp2 triliun dan sama-sama memiliki penerbitan awal Rp100 miliar.

Perbedaan utama terletak pada posisi pemegang instrumen saat bank menghadapi kesulitan pembayaran. Pemegang obligasi senior memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan pemegang obligasi subordinasi.

Rating Tertinggi untuk Kewajiban Senior

Fitch memberikan AAA(idn) kepada program obligasi senior berkelanjutan V serta penerbitan perdananya. Rating itu merupakan peringkat tertinggi dalam skala nasional Fitch dan mencerminkan ekspektasi risiko gagal bayar yang sangat rendah.

Obligasi senior UOB Indonesia berstatus sebagai kewajiban senior tanpa jaminan. Karena memiliki kedudukan setara dengan kewajiban senior tanpa jaminan lainnya, ratingnya disejajarkan dengan Peringkat Jangka Panjang Nasional bank.

Jenis ObligasiNilai ProgramPenerbitan AwalPeringkat
Senior berkelanjutan VRp2 triliunRp100 miliarAAA(idn)
Subordinasi berkelanjutan VRp2 triliunRp100 miliarAA(idn)

Risiko Lebih Besar pada Subordinasi

Obligasi subordinasi merupakan instrumen Tier 2 dengan posisi klaim yang lebih rendah serta prospek pemulihan yang lebih terbatas. Fitch menetapkan peringkatnya dua tingkat di bawah Peringkat Jangka Panjang Nasional UOB Indonesia.

Ketentuan obligasi ini memuat mekanisme penurunan nilai permanen terhadap pokok atau bunga ketika permodalan bank mendekati kondisi tidak mampu bertahan. Kupon maupun pokok juga dapat ditangguhkan dan diakumulasikan jika rasio modal berada di bawah ambang minimum.

Fitch tidak memberikan tambahan penyesuaian risiko gagal bayar bagi instrumen subordinasi tersebut. Penilaian itu didukung pandangan bahwa bantuan dari induk dapat mengimbangi risiko, termasuk untuk kewajiban non-senior.

Kepemilikan Induk Menjadi Penopang

United Overseas Bank Limited atau UOB Singapura menguasai sekitar 99 persen saham UOB Indonesia. Fitch melihat adanya ekspektasi kuat bahwa pemegang saham pengendali itu akan memberikan dukungan luar biasa apabila dibutuhkan.

Dukungan induk menjadi faktor penting dalam penilaian kemampuan bank memenuhi kewajiban kepada pemegang obligasi. Faktor tersebut ikut menopang peringkat nasional bank dan surat utang yang diterbitkannya.

Fitch menyatakan perubahan pada Peringkat Jangka Panjang Nasional UOB Indonesia akan langsung memengaruhi peringkat obligasi. Penurunan rating bank berpotensi diikuti oleh penurunan peringkat obligasi senior serta subordinasi.

Tekanan terhadap rating obligasi subordinasi dapat muncul apabila rasio modal inti atau Common Equity Tier 1 turun signifikan hingga di bawah 6,5 persen. Berdasarkan penilaian Fitch saat ini, kemungkinan kondisi tersebut terjadi dinilai kecil.

Struktur dua program ini menunjukkan bahwa rating surat utang bank perlu dibaca bersama posisi klaim dan mekanisme penyerapan kerugiannya. Dukungan pemegang saham pengendali memperkuat profil kredit, tetapi tidak menghapus perbedaan risiko antara instrumen senior dan subordinasi.

Baca Juga