Bukan Pengganti Sholat Wajib, Tahajud Disebut Jalan Menyempurnakan Ketaatan

Sholat fardhu tetap menjadi kewajiban utama yang tidak dapat digantikan oleh ibadah sunnah apa pun. Namun, sholat tahajud dapat menjadi amalan tambahan untuk melengkapi kekurangan dalam ketaatan seorang muslim.

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa tahajud masuk dalam kelompok nafilah, yakni ibadah tambahan di luar lima sholat wajib. Amalan tersebut memberi peluang bagi seorang hamba untuk menambah pahala dan meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT.

Nafilah untuk Menyempurnakan Amalan Pokok

Secara bahasa, nafilah berarti sesuatu yang ditambahkan pada bagian pokok agar menjadi lebih sempurna. Pengertian ini menegaskan bahwa kedudukan sholat wajib tetap tidak berubah meskipun seseorang banyak menjalankan sholat sunnah.

Dalam penjelasannya pada pembelajaran MIRA atau Ma’had Islam Rafiah Akhirat yang ditayangkan melalui kanal YouTube resmi, Ustaz Adi Hidayat menerangkan fungsi tambahan tersebut. Sholat sunnah tidak dimaksudkan untuk mengganti kewajiban, melainkan menambah nilai ketaatan seorang hamba.

“Sesuatu yang bertambah pada yang pokok, yang dengan tambahan itu menjadikan kesempurnaan bertambah lebih baik, lebih bagus, itu disebut nafilah,” ujar Ustaz Adi Hidayat. Para ulama juga lebih sering memakai istilah sholat sunnah untuk mendorong umat mengejar pahala dan keutamaannya.

IstilahPengertianPosisi dalam Ibadah
Sholat fardhuSholat wajib lima waktuFondasi utama ibadah
Sholat sunnahAmalan berpahala bila dikerjakanTambahan di luar kewajiban
TahajudSholat malam sesudah tidurBagian dari nafilah

Dalam kajian fikih, perbuatan manusia dibagi menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Mengerjakan amalan sunnah mendatangkan pahala, sementara meninggalkannya tidak menimbulkan dosa dalam keadaan tertentu.

Sholat Pertama yang Dihisab

Ustaz Adi Hidayat menyinggung hadis mengenai sholat sebagai amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat. Jika terdapat kekurangan dalam sholat wajib, amalan-amalan nafilah disebut dapat menjadi pelengkap atas kekurangan tersebut.

Fungsi penyempurnaan itu juga berkaitan dengan kualitas penghayatan seseorang dalam beribadah. Sholat yang didirikan dengan benar, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ankabut ayat 45, dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Sholat rawatib berfungsi mengiringi sholat fardhu pada waktu-waktu tertentu. Sementara itu, syuruq, Dhuha, dan tahajud memiliki keutamaan masing-masing sebagai ruang untuk menambah amalan.

Pendidikan sholat dipandang penting dalam pembentukan karakter sejak usia anak-anak. Blitarkawentar.jawapos.com memuat penjelasan bahwa rentang usia 7 hingga 10 tahun menjadi masa penting untuk menanamkan kebiasaan ibadah tersebut.

Kesungguhan yang Menjadi Ciri Tahajud

Tahajud memiliki ciri khusus karena dikerjakan pada malam hari setelah seseorang tidur. Ustaz Adi Hidayat menguraikan bahwa istilah itu berakar dari kata hajada, yaitu aktivitas malam yang didahului tidur.

Penambahan huruf “ta” menunjukkan adanya kesungguhan, usaha keras, serta keseriusan untuk bangun pada malam hari. Kemampuan melaksanakannya karena itu dipandang sebagai karunia yang layak disyukuri.

Surah Al-Isra ayat 79 menyebut tahajud sebagai ibadah tambahan pada malam hari. Ayat tersebut menjadi salah satu dasar anjuran untuk menggunakan sebagian malam sebagai waktu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ustaz Adi Hidayat mengingatkan agar malam tidak dihabiskan dalam kegiatan yang tidak bermanfaat atau begadang tanpa tujuan. Tahajud dapat menjadi kesempatan untuk bersujud, memohon ampun, serta menambah pahala setelah menjalani aktivitas sepanjang hari.

Nilai tahajud terletak pada tambahan ibadah yang dijalankan tanpa mengabaikan kewajiban pokok. Dengan menjaga sholat fardhu dan menambah amalan nafilah, seorang muslim memiliki ruang untuk terus memperbaiki kualitas ketaatannya.

Baca Juga