Sebuah drone berangka kawat dapat tampak nyaris menyatu dengan latar belakang ketika terbang sambil berputar cepat. Perangkat hasil pengembangan insinyur Northwestern University itu dirancang untuk mengurangi keterlihatan melalui bentuk, bahan, dan gerakan.
Drone ini mampu berputar hingga 25 kali per detik dengan hanya satu baling-baling. Kecepatan tersebut membuat fitur fisiknya terlihat buram, sehingga perangkat tidak tampak seperti drone pada umumnya.
Efeknya bukanlah kemampuan untuk menghilang sepenuhnya. Mata manusia tetap dapat menangkap keberadaannya, tetapi cenderung sulit membedakan bentuk, rangka, dan komponen kecil yang bergerak cepat.
AI Menentukan Tata Letak Drone
Rancangan akhir perangkat diperoleh lewat proses optimasi AI yang meniru mekanisme seleksi alam. Peneliti membuat sekitar 20.000 kandidat konfigurasi yang dinilai mampu terbang stabil dalam simulasi komputer.
Setiap kandidat dievaluasi untuk mencari susunan komponen yang mendukung penerbangan sekaligus mengurangi tingkat keterlihatannya. Algoritma terus menghapus rancangan yang lemah dan mempertahankan pilihan yang dinilai lebih efektif.
| Tahapan Riset | Kegiatan Utama | Sasaran |
|---|---|---|
| Simulasi awal | Membuat sekitar 20.000 konfigurasi | Mendapatkan kandidat stabil |
| Penyusunan komponen | Mengatur motor, baterai, dan penyeimbang | Menemukan tata letak efektif |
| Penilaian visual | Menghitung tangkapan penglihatan manusia | Mengurangi keterlihatan saat bergerak |
Motor, baling-baling, papan sirkuit, penyeimbang, dan baterai termasuk komponen yang diatur ulang dalam proses tersebut. Setelah optimasi tambahan, desain yang dipilih diwujudkan menjadi perangkat fisik dan diuji di dunia nyata.
Memanfaatkan Cara Mata Mengolah Citra
Emma Alexander dari McCormick School of Engineering menjelaskan bahwa mata manusia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan sinyal visual. Menurutnya, mekanisme itu kira-kira serupa dengan waktu pencahayaan pada kamera.
“Ketika suatu objek berputar cepat, kita mempersepsikannya sebagai objek yang kabur dan kehilangan fitur-fitur yang jelas,” kata Alexander dalam pernyataannya. Ketika komponen yang digunakan juga hampir transparan, bagian-bagian tersebut dapat terlihat berbaur dengan lingkungan di belakangnya.
Tim tidak mengandalkan pola warna untuk menyamarkan drone dari suatu lokasi tertentu. Mereka membangun desain berdasarkan cara pengamat manusia memproses objek yang bergerak secara ekstrem.
Michael Rubenstein, Profesor Madya Ilmu Komputer dan Teknik Mesin di Northwestern University, menyatakan pendekatan berbasis gerakan berkelanjutan untuk memperoleh visibilitas rendah masih jarang dieksplorasi. Karena itu, riset ini menggabungkan pengembangan robot terbang dengan pemahaman mengenai persepsi visual.
Peluang Pemakaian dan Kekhawatiran
Drone tersebut berpotensi dipakai untuk mengamati satwa liar, menyurvei lingkungan, dan memeriksa infrastruktur. Gangguan visual yang lebih kecil dapat membantu perangkat bekerja tanpa terlalu menarik perhatian pada area yang sedang diamati.
Karakter yang sulit terlihat juga membuka kemungkinan pemanfaatan untuk pengawasan rahasia dan kebutuhan militer. Meski demikian, penggunaan itu bukan usulan yang diajukan peneliti dalam proyek ini.
Menurut inet.detik.com yang mengutip IFLScience, riset tersebut dipresentasikan pada konferensi Robotics: Science and Systems 2026 di Sydney, Australia, pada 16 Juli. Temuan ini menempatkan gerakan dan persepsi manusia sebagai bagian penting dalam perancangan drone masa depan.






