Vladimir Putin menyebut hubungan Rusia dan Korea Utara telah mencapai tingkat kemitraan strategis komprehensif yang belum pernah ada sebelumnya. Kim Jong Un membalas dengan menyatakan bangga atas hubungan tersebut dan ingin membawanya ke masa depan yang lebih unggul.
Pertukaran surat itu memberi penegasan politik baru atas kedekatan Pyongyang dan Moskow. Hubungan kedua negara kini disorot karena berlangsung di tengah perang Rusia-Ukraina dan tudingan kerja sama militer.
Pesan Putin mengenai keamanan kawasan
Putin lebih dulu menyampaikan surat kepada Kim pada Jumat (14/8). Pesan itu dikirim dalam rangka peringatan pembebasan Korea dari penjajahan Jepang pada akhir Perang Dunia II.
Presiden Rusia tersebut mengatakan kedua negara aktif bekerja sama di berbagai sektor. Ia menempatkan kerja sama itu sebagai bagian dari upaya memastikan keamanan dan stabilitas kawasan.
“Negara-negara kita aktif bekerja sama di semua sektor sembari melakukan upaya bersama untuk memastikan keamanan dan stabilitas kawasan,” ujar Putin. Pernyataan ini menegaskan pandangan Moskow mengenai arti strategis hubungan dengan Korea Utara.
Kim kemudian mengirim surat balasan pada Minggu (16/8). Ia menyampaikan keyakinan teguh bahwa Rusia akan maju dan mempertahankan keutuhan wilayahnya di bawah kepemimpinan Putin.
| Waktu | Pengirim | Penekanan Pesan |
|---|---|---|
| Jumat (14/8) | Vladimir Putin | Kemitraan strategis komprehensif dan kerja sama untuk stabilitas kawasan. |
| Minggu (16/8) | Kim Jong Un | Kebanggaan atas hubungan bilateral serta dukungan terhadap Rusia. |
Kim menyinggung sejarah DPRK-Rusia
Menurut Korean Central News Agency atau KCNA, Kim menyebut hubungan DPRK-Rusia berakar pada sejarah perjuangan bersama. DPRK adalah nama singkat dari Republik Rakyat Demokratik Korea, nama resmi Korea Utara.
“Saya selalu bangga dapat mengharapkan masa depan hubungan bilateral yang lebih unggul dengan memimpin, bersama Anda, hubungan DPRK-Rusia yang telah meneruskan sejarah perjuangan bersama,” kata Kim dalam siaran KCNA berbahasa Inggris yang dikutip AFP.
Pernyataan Kim memperlihatkan dukungan terbuka Pyongyang kepada Moskow. Surat itu juga datang saat posisi Korea Utara dalam konflik Ukraina semakin diperhatikan.
Tudingan terkait rudal dan pasukan
Sejak Rusia menginvasi Ukraina secara skala penuh pada 2022, Korea Utara disebut menjadi salah satu sekutu penting Kremlin. Pyongyang disebut mengirim pasukan untuk membantu upaya perang Rusia dengan imbalan manfaat ekonomi dan teknologi militer.
Ukraina menuduh Rusia menggunakan rudal balistik Korea Utara dalam serangan yang menewaskan sedikitnya sembilan orang serta melukai puluhan lainnya. Tudingan itu menempatkan kerja sama kedua negara dalam perhatian internasional yang lebih besar.
Kyiv juga menyatakan hingga 50 ribu tentara Korea Utara akan dikerahkan ke Rusia. Namun, pernyataan tersebut tidak disertai bukti dan tidak menjelaskan jadwal pengerahan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta Korea Selatan memasok sistem pertahanan udara untuk menghadapi rudal Rusia. Permintaan itu belum ditanggapi oleh Seoul.
Dengan saling berkirim surat, Kim dan Putin memperlihatkan kesinambungan hubungan politik di antara kedua negara. Kedekatan itu berjalan bersamaan dengan sorotan terhadap kemungkinan peran Korea Utara dalam dukungan perang Rusia di Ukraina.






