Prancis Pernah Siapkan USD30 Juta untuk Laut di Sahara, Tapi Alam Mengalahkannya

Sekitar USD30 juta pernah diperkirakan diperlukan Prancis untuk membangun kanal air laut menuju gurun Tunisia. Nilai besar itu pada akhirnya tidak cukup untuk mengatasi persoalan medan dan ketidakpastian manfaat dari proyek Laut Sahara.

Pemerintah Prancis menolak mendanai rencana tersebut setelah survei lanjutan memberi hasil yang tidak mendukung. Sebagian wilayah yang ditargetkan untuk tergenang ternyata tidak sepenuhnya berada di bawah permukaan laut.

Proyek yang menjanjikan perubahan besar

Para pendukung Laut Sahara membayangkan sebuah badan air pedalaman dapat mengubah kawasan tandus menjadi lebih lembap. Mereka berharap peningkatan kelembapan akan memicu hujan, mendukung pertanian, dan mendorong perkembangan permukiman.

Proyek itu juga memiliki dimensi ekonomi dan politik yang besar. Laut baru di Afrika Utara diharapkan membuka rute pelayaran serta perdagangan, sekaligus mendukung pembangunan wilayah koloni Prancis.

Nama yang paling erat dengan rencana Tunisia adalah François Élie Roudaire, perwira Angkatan Darat Prancis. Pada 1870-an, ia mengusulkan kanal dari Teluk Gabès di pesisir Mediterania menuju Chott el Fejej di Tunisia selatan.

Roudaire memperoleh dukungan Ferdinand de Lesseps, diplomat dan insinyur yang dikenal melalui pembangunan Terusan Suez. Mereka meyakini cekungan tujuan cukup rendah agar air laut dapat mengalir dan membentuk laut pedalaman.

TokohLokasi RencanaAsal AirTujuan
François Élie RoudaireChott el Fejej, Tunisia selatanTeluk GabèsMembentuk laut pedalaman
Donald MackenzieEl Djouf, Mauritania dan MaliSamudra AtlantikMenghubungkan laut ke Sungai Niger

Asumsi dasar yang tidak bertahan

Penelitian lapangan kemudian memperlihatkan bahwa rancangan kanal tidak dapat dibuat sesederhana perkiraan awal. Kondisi elevasi di area yang akan digenangi memaksa perencanaan jalur lebih kompleks dan berbiaya lebih tinggi.

Pertanyaan juga muncul mengenai dampak iklim yang dijanjikan. Para ilmuwan meragukan apakah laut buatan berukuran sangat besar benar-benar dapat menaikkan curah hujan di kawasan sekitar.

Risiko lingkungan turut menjadi pertimbangan penting dalam penolakan itu. Area tergenang dikhawatirkan berubah menjadi rawa luas yang mendukung perkembangbiakan serangga dan meningkatkan ancaman penyakit.

Tanpa kepastian manfaat ekonomi, pertanian, dan iklim, biaya sekitar USD30 juta menjadi semakin sulit dibenarkan. Pemerintah Prancis akhirnya menghentikan rencana pendanaan untuk kanal tersebut.

Usulan yang terus berulang

Penolakan terhadap rencana Roudaire tidak sepenuhnya mengakhiri gagasan mengisi cekungan Sahara dengan air laut. Sekitar 1910, Profesor Etchegoyen mengusulkan kanal yang lebih besar dan lebih dalam untuk tujuan serupa.

Pemerintah kembali memilih tidak meneruskannya. Dengan demikian, gagasan laut raksasa di tengah gurun tetap berada pada tahap konsep meski berkali-kali dibangkitkan.

Versi lain diajukan Donald Mackenzie pada 1877, seperti dicatat inet.detik.com. Ia membayangkan laut buatan seluas sekitar 155.399 kilometer persegi di El Djouf, yang terhubung ke Sungai Niger melalui kanal tambahan.

Gagasan Mackenzie bertumpu pada pandangan sebagian ahli geologi kala itu bahwa El Djouf pernah terkait dengan Atlantik. Pada abad berikutnya, ide mengubah gurun ini bahkan menginspirasi Operation Plowshare di Amerika Serikat yang sempat mempertimbangkan ledakan nuklir untuk mengalirkan air.

Kisah ini menunjukkan bahwa ambisi geoengineering telah muncul jauh sebelum perubahan iklim menjadi perhatian global. Laut Sahara menjadi pengingat bahwa perubahan bentang alam membutuhkan pemahaman medan, biaya, dan risiko yang jauh melampaui sebuah gagasan besar.

Baca Juga