Anak dapat diberi kesempatan memilih aktivitas yang disukai tanpa harus kehilangan arahan dari orang tua. Prinsip inilah yang menjadi inti pendekatan Alicia Chanzia atau Acha dalam mendampingi putrinya, Claire, yang berusia 1 tahun.
Bagi Acha, orang tua tetap perlu menunjukkan jalur yang benar saat anak mulai mengenali minatnya. Kebebasan ditempatkan sebagai ruang belajar, bukan sebagai keputusan yang sepenuhnya dilepas kepada anak.
Eksplorasi tetap membutuhkan batas
Claire diberi ruang untuk mencoba hal-hal yang disukainya sesuai tahap perkembangan. Namun, Acha memastikan pilihan itu berada dalam pengawasan dan arahan keluarga.
“Aku membebaskan tapi tetap diarahkan, dikasih tahu jalurnya yang mana, dikasih arahan yang benar,” kata Acha. Setelah penjelasan diberikan, Claire dapat ikut menentukan pilihannya sendiri.
Pendekatan tersebut memberi anak kesempatan untuk terlibat dalam proses memilih. Pada saat yang sama, orang tua tidak melepaskan peran untuk menetapkan batas dan memberi petunjuk.
Model pendampingan ini berbeda dari kebebasan tanpa batas. Anak tetap dapat bereksplorasi, tetapi kegiatan dan pilihannya dijalankan dengan perhatian dari orang tua.
Memenuhi kebutuhan dan menjaga kondisi mental
Acha juga mengusahakan agar kebutuhan anak terpenuhi di rumah. Ia menilai langkah itu penting agar anak tidak mencari pelampiasan di luar lingkungan keluarga.
Perhatian tersebut berhubungan dengan pentingnya kesehatan mental anak dalam pengasuhan. Kekhawatiran bahwa kesalahan kecil dapat berdampak negatif membuat aspek mental menjadi pertimbangan yang semakin diperhatikan.
Health.detik.com mencatat bahwa perhatian terhadap mental anak menjadi salah satu ciri yang menonjol dalam pembicaraan tentang pola asuh ibu muda Generasi Z. Meski masih relatif muda, sebagian dari mereka mengedepankan pola pendampingan yang berbeda dalam tumbuh kembang anak.
Bermain tidak hanya untuk hiburan
Gagasan tentang pendampingan anak juga hadir dalam aktivitas bermain. Permainan dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar melalui stimulasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Acha menghadiri Morinaga Door of Future bertajuk “Dunia Generasi Platinum” di Jakarta Pusat pada Jumat, 24 Juli 2026. Ia menilai kegiatan tersebut sebagai tempat yang baik bagi Claire untuk belajar sekaligus bermain.
Acara itu menyediakan arena permainan yang dirancang agar anak dapat melakukan aktivitas bermain sambil belajar. Kegiatan tersebut menempatkan stimulasi motorik dan kognitif sebagai bagian dari pengalaman anak.
Group Brand Manager Morinaga, Gregorius Daru Smaragiri, mengatakan permainan yang tersedia merupakan bentuk aktualisasi stimulasi untuk anak. “Melihat permainan yang ada di dalam Door of Future ini, sebagai bentuk aktualisasi dari stimulasi untuk anak,” ujar Daru.
Daru menambahkan bahwa permainan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai hiburan. Aktivitas bermain juga diposisikan sebagai sarana belajar yang dapat memberi manfaat bagi tumbuh kembang anak.
Kesempatan memilih, perhatian terhadap mental, serta permainan yang memiliki unsur belajar dapat berjalan dalam satu pola pendampingan. Orang tua tetap menjadi pihak yang menjaga agar kebebasan anak berkembang dalam arah yang tepat.






