Dunia pertanian menghadapi paradoks besar menjelang 2030. Sektor ini diproyeksikan menambah 35 juta pekerjaan secara global, tetapi jumlah petani berusia di bawah 35 tahun masih kurang dari satu dari setiap 20 petani dunia.
World Economic Forum mencatat proyeksi penambahan pekerjaan tersebut dalam Future of Jobs Report 2025. Pertanian diperkirakan menjadi sektor dengan lonjakan penciptaan lapangan kerja terbesar di dunia.
Regenerasi menjadi persoalan karena pertanian masih sering dipandang sebagai pekerjaan kuno dan dekat dengan generasi yang lebih tua. Pandangan itu berhadapan dengan kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk.
Minat terhadap makanan organik yang meningkat juga mendukung peluang pengembangan sektor pangan. Kebutuhan tersebut membuat pertanian memerlukan tenaga kerja dengan kemampuan yang lebih beragam.
Lapangan Pertanian Tidak Lagi Semata Kerja Manual
Perkembangan teknologi mulai mengubah jenis pekerjaan dan cara kerja di lahan. Sensor pintar, peralatan presisi, serta model tanaman berbasis AI digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas.
Perubahan ini membuka ruang bagi anak muda yang memahami teknologi, budidaya, pengelolaan produksi, dan kewirausahaan. Praktik berkelanjutan juga menjadi bagian penting dari arah pertanian modern.
Contoh perubahan itu terlihat di China, tempat sejumlah lulusan perguruan tinggi dari kota memilih kembali ke desa. Mereka menjalankan usaha pertanian dengan bantuan perangkat digital dan mesin yang mengurangi beban kerja fisik.
Wang Huan, petani berusia 21 tahun dari Kabupaten Yicheng, Provinsi Shanxi, menggunakan drone untuk membantu pekerjaan di lahannya. Menurutnya, penggunaan perangkat itu membuat penyebaran pupuk jauh lebih cepat dibanding metode sebelumnya.
“Sebuah drone dapat menyebarkan dua ton pupuk hanya dalam waktu sehari, sementara pekerjaan yang sama dulunya membutuhkan tiga orang selama empat hingga lima hari,” kata Wang Huan, dikutip dari China Daily.
Ding Zehui dari Kabupaten Wanrong, Shanxi, juga memutuskan menjadi petani setelah menyelesaikan pendidikan kuliah. Ia menilai mesin pertanian yang lebih canggih membuat kondisi kerja di sektor ini berubah.
“Mesin pertanian semakin canggih, dengan kabin ber-AC dan kontrol yang lebih mudah digunakan. Hal ini membuat lingkungan kerja jauh lebih baik,” ujar Ding. Di China, tingkat mekanisasi komprehensif untuk budidaya, penanaman, dan panen tanaman telah melampaui 75%.
Peluang di Tengah Tekanan Pasar Kerja
Prospek pertanian menjadi relevan bagi Gen Z ketika kelompok usia tersebut menghadapi hambatan besar untuk masuk dunia kerja. Data Sakernas BPS per Mei 2026 mencatat tingkat pengangguran terbuka usia 15-24 tahun jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia 25-29 tahun.
| Kelompok Usia | Tingkat Pengangguran Terbuka |
|---|---|
| 15-24 tahun | 17,37% |
| 25-29 tahun | 2,56% |
Perbedaan tersebut memperlihatkan tekanan yang dihadapi pencari kerja muda. Situasi itu dapat menjadi semakin menantang karena AI mampu menjalankan sejumlah pekerjaan yang selama ini dikerjakan tenaga kerja pemula.
Sektor pertanian menawarkan kebutuhan keterampilan yang berbeda, termasuk pengoperasian alat, pengelolaan produksi, dan penerapan sistem yang efisien. Namun, peluang tersebut tetap dibayangi kondisi tanah yang memburuk, kerusakan lahan, cuaca yang makin sulit diprediksi, dan peningkatan biaya perawatan.
Modernisasi tidak menghilangkan risiko di lapangan, tetapi dapat mengubah cara risiko itu dikelola. Kebutuhan terhadap petani muda dan tenaga kerja berkemampuan teknologi menjadi semakin penting dalam menjaga produksi pangan di masa depan.






