Petani Lokal Masuk Rantai Bensin RI, Pertamina Siapkan 20 hingga 30 Pabrik Etanol

Pengembangan etanol untuk campuran bensin diproyeksikan tidak hanya berurusan dengan energi, tetapi juga membuka ruang penyerapan komoditas dari petani lokal. Pertamina New & Renewable Energy atau Pertamina NRE memperkirakan sekitar 20 hingga 30 pabrik baru dapat dibangun dalam dua tahun untuk mendukung arah tersebut.

Fasilitas pengolahan tidak harus terkonsentrasi di beberapa lokasi seperti kilang. Pabrik etanol dapat dikembangkan mendekati wilayah yang memiliki bahan baku pertanian dan perkebunan sesuai potensinya.

Pasokan disesuaikan dengan kekuatan daerah

Strategi yang disiapkan Pertamina NRE memakai lebih dari satu jenis bahan baku. Singkong, jagung, sorgum, aren, dan tetes tebu dipertimbangkan untuk membangun pasokan etanol domestik yang lebih beragam.

Aren dari Sulawesi Utara menjadi salah satu contoh komoditas yang disebut dalam rencana tersebut. Adapun singkong, jagung, dan sorgum dapat dipilih di daerah lain berdasarkan ketersediaan bahan baku lokal.

CEO Pertamina NRE John Anis memaparkan pendekatan itu dalam kegiatan Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI kepada Presiden Prabowo Subianto. “Tapi kami juga mengembangkan dari multi-feedstock pak,” kata John Anis.

Bahan bakuLokasi atau potensiKeterangan
Tetes tebuMojokerto, Jawa TimurSudah dipakai untuk produksi
ArenSulawesi UtaraMasuk pilihan pengembangan
SingkongBerbasis potensi daerahAlternatif bahan baku
Jagung dan sorgumBerbasis potensi daerahAlternatif bahan baku

Dari Mojokerto ke model yang lebih tersebar

Produksi Bioetanol Pertamina saat ini dilakukan dari tetes tebu melalui pabrik di Mojokerto, Jawa Timur. Kapasitas fasilitas tersebut mencapai 33.000 kiloliter per tahun.

Penggunaan singkong dan sorgum membuka peluang perluasan produksi ke provinsi lain. Pilihan komoditas tidak ditetapkan tunggal karena tiap daerah memiliki kondisi pertanian dan perkebunan yang berbeda.

Pendekatan desentralisasi itu diharapkan menghubungkan kebutuhan energi dengan aktivitas petani setempat. Bahan baku yang dihasilkan daerah berpotensi memperoleh nilai tambah ketika terserap oleh industri etanol.

Menurut CNBC Indonesia, pemanfaatan sumber lokal juga dipandang sebagai salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Dana yang selama ini digunakan untuk impor diharapkan dapat berputar di dalam negeri melalui pasokan komoditas dari petani.

Kepastian harga menentukan kelanjutan program

Ekspansi pabrik dan bahan baku tidak cukup hanya ditopang potensi komoditas. Pertamina NRE menekankan perlunya regulasi mandatori serta kepastian pasokan dan harga agar pelaku usaha maupun petani memiliki insentif yang jelas.

Aspek tersebut berkaitan langsung dengan pengembangan Campuran Bensin E5 yang saat ini tersedia di 170 outlet Pertamina di Jawa Timur dan Jakarta. E5 menandakan bensin mengandung 5% etanol dan masih menggunakan bahan baku tetes tebu.

John Anis membandingkan posisi Indonesia dengan India yang disebut telah menerapkan campuran E20. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa perluasan kandungan etanol membutuhkan pasokan domestik yang kuat dan berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan bahan baku nabati tidak diarahkan hanya pada satu komoditas. Kesiapan pasokan lokal, kepastian harga, dan dukungan kebijakan akan menentukan seberapa jauh industri etanol dapat diperluas.

Baca Juga