Pesan Sabuk Hitam Prabowo untuk Citra, Anak Pangkep yang Bangkit lewat Sekolah

Target sabuk hitam menjadi pesan yang dibawa Citra Nur Ramadhani setelah diperkenalkan Presiden Prabowo Subianto di hadapan anggota parlemen. Siswi asal Pangkep itu telah lebih dulu meraih juara II karate tingkat Kabupaten Pangkep.

Prabowo memperkenalkan Citra dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI. Kisah Citra diangkat untuk menunjukkan pentingnya kesempatan pendidikan bagi anak yang mengalami kesulitan ekonomi.

“Citra, kau boleh pacaran setelah sabuk hitam karate mu,” ujar Prabowo dalam pidatonya. Citra menjawab dengan harapan agar Presiden tetap sehat dan menunggu dirinya dewasa memakai sabuk hitam.

“Pak Presiden sehat-sehat ya. Tunggu saya dewasa nanti pakai sabuk hitam,” kata Citra. Pesan itu mencerminkan keinginannya untuk terus menekuni karate setelah memperoleh wadah latihan di sekolah.

Dari Arena Karate ke Gedung Parlemen

Citra hadir di Gedung Nusantara II DPR/MPR RI, Jakarta, pada Jumat (14/8). Ia mengenakan baju Bodo, busana khas Sulawesi Selatan, dalam pertemuan yang menurutnya meninggalkan kesan mendalam.

Ia mengaku senang dapat bertemu Presiden secara langsung. Kehadirannya di sidang parlemen terjadi setelah prestasi karate yang diraih melalui kegiatan ekstrakurikuler di SRT 67 Pangkep.

Wali Asuh SRT 67 Pangkep, Maysaroh Abdi Gobel, mengatakan kemampuan Citra mulai terlihat ketika ia aktif mengikuti kegiatan tersebut. Maysaroh juga menilai siswinya cepat menghafal, bersemangat belajar, dan ingin mengetahui banyak hal.

Di kelas, Citra menyukai mata pelajaran matematika. Kesehariannya di sekolah dimulai dari bangun subuh, beribadah, sarapan, lalu belajar.

“Bangun subuh, sholat. Makan pagi. Belajar,” ujar Citra. Jadwal tersebut berbeda dari masa ketika ia harus menyisihkan waktu untuk membantu ibunya berjualan.

Kesempatan yang Mengubah Rutinitas

Sebelum menjadi siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan, Citra menjual kacang secara berkeliling. Ia memperoleh kacang dari tetangga pemilik usaha, kemudian menjualnya di sekitar taman kota dan stasiun pengisian bahan bakar umum.

Kegiatan itu dilakukan untuk membantu ibunya, Hajrah, memenuhi kebutuhan keluarga. Hajrah menjadi orang tua tunggal setelah ayah Citra meninggal saat putrinya masih kelas 2 SD.

Omzet penjualan kacang Citra dalam sehari disebut mencapai sekitar Rp200 ribu. Maysaroh mengatakan Citra pernah berjualan sampai malam tanpa sepengetahuan ibunya.

Tekanan ekonomi tersebut membuat pendidikan Citra sempat berada di ambang berhenti ketika ia kelas 4 SD. Masuk ke SRT 67 Pangkep memberinya kesempatan untuk kembali menempatkan belajar sebagai kegiatan utama.

PerubahanSebelum SRT 67 PangkepSetelah Masuk SRT
Kegiatan utamaMembantu berjualan kacangBelajar dan kegiatan sekolah
Kondisi makanDisebut sangat kurusTiga kali makan dan dua kali makanan ringan
Pengembangan diriBelum ada wadah latihan yang disebutkanMengikuti ekstrakurikuler karate

Maysaroh menyebut perubahan fisik Citra juga dirasakan oleh keluarganya. Ibunya melihat tubuh Citra kini lebih berisi dibandingkan sebelum mengikuti program sekolah.

Prabowo menyatakan Sekolah Rakyat menjadi bagian dari upaya pemerintah memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Dukungan yang disebutkannya mencakup tempat tinggal, makanan bergizi, guru, fasilitas belajar, serta lingkungan yang aman.

Bagi Citra, dukungan tersebut membuka ruang untuk belajar dan berprestasi di karate. Perjalanan dari menjual kacang hingga membawa gelar juara di Pangkep kini berlanjut dengan target sabuk hitam.

Baca Juga