Ikan Kering untuk Bayar SPP, Langkah Surni dari Laut Wakatobi hingga Gelar Doktor

Kiriman ikan kering dari kampung pernah menjadi salah satu cara Surni membiayai sekolah di Baubau. Ikan itu dijual untuk membantu membayar SPP ketika keluarga tidak selalu dapat mengirim biaya dalam bentuk uang tunai.

Perjalanan tersebut kini berujung pada gelar doktor dan jabatan Wakil Rektor II Bidang Nonakademik di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi. Surni juga mengajar mata kuliah Kewirausahaan serta tetap bekerja di Badan Pendapatan Daerah Wakatobi.

Surni lahir di Mantigola, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada 1977. Ia disebut sebagai perempuan pertama suku Bajo di Indonesia yang meraih pendidikan S3.

Gelar doktor itu diperolehnya melalui Program Ilmu Administrasi di Universitas 17 Agustus Surabaya. Surni diwisuda pada 2025 dengan gelar Dr. Surni, S.E., M.Si.

Merantau untuk Bersekolah

Setelah lulus SMP, Surni memilih keluar dari Kaledupa untuk melanjutkan pendidikan di SMEA Negeri Baubau. Ia tinggal bersama guru dan keluarga gurunya agar dapat bersekolah serta mengenal kehidupan masyarakat daratan lebih luas.

Keputusan merantau itu datang setelah ia lebih dulu tinggal bersama kerabat yang mengajar di SMP dekat Kaledupa. Jarak dari rumah menuju sekolah sekitar lima kilometer jika dilalui dengan berjalan kaki.

Orang tua Surni terus mendorong anaknya untuk belajar. Dukungan itu menjadi penting karena pendidikan belum mudah diakses oleh banyak anak Bajo pada masa tersebut.

Komunitas Bajo kala itu sangat lekat dengan tradisi melaut dan perpindahan untuk mencari nafkah. Kondisi tersebut ikut memengaruhi keberlanjutan sekolah, sehingga banyak warga tidak menamatkan pendidikan dasar dan sebagian teman sebaya Surni menikah pada usia dini.

Rumah Panggung dan Perjalanan Sampan

Surni tumbuh di desa dengan rumah-rumah panggung yang berdiri di atas laut. Ketika masih sekolah dasar, ia mendayung sampan sekitar 15 menit untuk mencapai permukiman di daratan.

Dalam keadaan tertentu, ia perlu berenang saat pulang karena tidak tersedia sampan. Hambatan perjalanan itu menjadi bagian dari awal perjuangannya mengakses pendidikan.

JenjangInstitusi atau LokasiKeterangan
SD dan SMPKaledupaMenghadapi akses dari permukiman laut
SMEABaubauBiaya terbantu penjualan ikan kering
S1 EkonomiUniversitas Muhammadiyah Buton dan KendariKuliah sambil bekerja
S2Universitas HaluoleoAdministrasi Pembangunan
S3Universitas 17 Agustus SurabayaIlmu Administrasi, wisuda 2025

Langkah di Kampus dan Pemerintahan

Surni masuk Jurusan Ekonomi Universitas Muhammadiyah Buton pada 2000 sebagai bagian dari angkatan pertama. Studi itu kemudian dipindahkan ke Universitas Muhammadiyah Kendari karena status akademik kampus awal belum tersedia.

Ia bekerja di kantor Partai Golkar Kabupaten Buton dengan gaji sekitar Rp100.000 per bulan untuk membantu kebutuhan kuliah. Setelah menyandang gelar Sarjana Ekonomi, ia sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPR.

Perolehan suara Surni tinggi berkat dukungan masyarakat Bajo, tetapi sistem nomor urut membuat calon di atas nomornya yang terpilih. Pengalaman itu juga memperlihatkan adanya jarak sosial yang dirasakan sebagian warga Bajo dalam pergaulan dengan kelompok masyarakat daratan.

Surni kemudian meneruskan studi S2 Administrasi Pembangunan di Universitas Haluoleo. Setelah lulus, ia kembali ke Wakatobi dan dinyatakan lulus seleksi PNS pada 2006.

Doktor untuk Memotivasi Generasi Berikutnya

Bersama anggota Muhammadiyah, Surni ikut merintis pembangunan sekolah di sekitar permukiman Bajo di Wakatobi. Sebelum kampus baru berdiri, ia mencari pengalaman pengelolaan di Universitas Muhammadiyah Buton yang memiliki 750 mahasiswa.

ITBM Wakatobi berdiri pada 2020 dan mulai menerima mahasiswa pada tahun berikutnya. Pada masa awal, kampus tersebut belum memiliki dosen bergelar doktor.

Surni lalu mengambil studi S3 dengan harapan dapat memotivasi rekan dosen dan masyarakat Bajo untuk melanjutkan pendidikan. Baginya, gelar doktor menjadi bukti bahwa anak-anak dari permukiman laut dapat mengejar peluang yang lebih luas.

Baca Juga