Peringatan dini tsunami setelah gempa M7,7 di Flores berakhir tanpa laporan kenaikan air laut cepat yang menghantam daratan. Kondisi itu kontras dengan gempa Flores 1992 yang menghasilkan tsunami dengan ketinggian dilaporkan hingga 25 meter.
BMKG mengakhiri peringatan dini pada pukul 07.31 WIB setelah gempa yang terjadi pukul 05.58 WITA. Pada fase awal, warga di wilayah terdampak sempat bergerak menuju lokasi yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri.
Lokasi Dekat, Dampak Berbeda
Gempa 2026 berpusat di laut sekitar 30 kilometer di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kedalamannya sekitar 15 kilometer, sehingga termasuk gempa yang relatif dangkal.
Lokasi peristiwa ini disebut kurang dari 40 kilometer dari pusat gempa Flores 1992. Keduanya sama-sama berkekuatan lebih dari M7, tetapi dampak terhadap laut dan daratan tidak sama.
| Perbandingan | Gempa Flores 1992 | Gempa Flores 2026 |
|---|---|---|
| Magnitudo | M7,9 | M7,7 |
| Lokasi | Berdekatan dengan lokasi gempa 2026 | 30 km timur laut Mbay |
| Dampak tsunami | Dilaporkan hingga 25 meter | Tak ada kenaikan air laut cepat ke daratan |
Kondisi Dasar Laut Menjadi Pembeda
Prof. Dr. Irwan Meilano, Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, menyebut tsunami tinggi pada 1992 tidak semata dipengaruhi kekuatan gempa. Longsoran bawah laut yang mengikuti peristiwa itu dinilai turut memperbesar perpindahan massa air.
“Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi,” kata Prof. Irwan dalam penjelasan di situs ITB. Tidak adanya proses serupa pada gempa terbaru diharapkan menjadi alasan tsunami tidak berkembang setinggi 1992.
Perbedaan magnitudo M7,9 dan M7,7 tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan tingkat bahaya tsunami. Faktor lain, termasuk keadaan dasar laut setelah gempa, tetap memerlukan perhatian.
Kerusakan Akibat Guncangan Tetap Diwaspadai
Ancaman tsunami besar yang tidak terjadi tidak menghilangkan potensi kerusakan akibat getaran. Prof. Irwan menilai magnitudo besar, kedalaman sekitar 10 hingga 15 kilometer, dan jarak yang dekat dengan permukiman merupakan kombinasi berisiko.
“Gempa ini magnitudonya pun signifikan, M7,7, kemudian kedalamannya dari beberapa sumber sekitar 10 sampai 15 kilometer,” kata Prof. Irwan. Dampak di setiap wilayah juga dipengaruhi kondisi tanah serta kualitas infrastruktur setempat.
Amplifikasi tanah dapat membuat getaran terasa lebih kuat di lokasi tertentu. Mutu bangunan kemudian menentukan kemampuan infrastruktur menghadapi guncangan tersebut.
Wilayah Busur Belakang Tetap Aktif
BMKG menyatakan pemicu gempa adalah aktivitas Flores Back Arc Thrust, kawasan busur belakang Flores yang dikenal aktif secara kegempaan. Kawasan ini memiliki catatan gempa M6,6 pada 2009 dan rangkaian gempa di utara Lombok pada 2018 dengan magnitudo di atas 6.
Dalam kajian penyusunan peta gempa nasional, masih terdapat bagian kawasan tersebut yang dinilai memiliki potensi kegempaan. Prof. Irwan mengingatkan bahwa gempa susulan di atas M6 tetap dapat berdampak signifikan sehingga langkah keselamatan perlu disiapkan.






