Pengungsian dan Bom Mengguncang Anak Autisme Gaza, Terapi Kini Ikut Hancur

Hancurnya layanan pendidikan khusus dan rehabilitasi menambah beban keluarga anak autisme di Gaza yang sudah hidup di tengah pengungsian dan suara bom. Kebutuhan terapi serta pendampingan profesional kini harus dihadapi dalam kondisi fasilitas yang sangat terbatas.

WHO mencatat tidak ada peralatan rehabilitasi yang diizinkan masuk ke Gaza sejak Mei 2024 hingga April tahun ini. Pusat Pendidikan Khusus Palestina juga dilaporkan hancur total, sedangkan mantan direkturnya, Arij Abu Sultan, gugur.

Keluarga Kehilangan Penopang Perawatan

Hilangnya sekolah dan layanan khusus membuat rutinitas anak autistik terganggu secara mendalam. Padahal, lingkungan yang tenang dan dapat diprediksi diperlukan agar mereka dapat merasa aman.

Pengungsian mendadak dan tinggal di tenda menghadirkan rangsangan yang sulit diproses, terutama ketika gempuran udara berulang. Reem Jarour dari Organisasi Dolphins menyebut rutinitas sebagai “katup pengaman neurologis” bagi anak autis.

Menurut Jarour, pemicu lingkungan yang sebelumnya dapat dikelola berubah menjadi ancaman akut selama pengungsian. Dampaknya dapat berupa kemunduran kemampuan bahasa dan sosial yang telah dibangun bertahun-tahun.

Spesialis psikologi Diaa Abu Aoun menyatakan ketakutan yang terus berlangsung dapat muncul dalam bentuk insomnia, gangguan pencernaan, teriakan hebat, dan hilangnya kendali perilaku. Tekanan ini juga dapat menghambat respons anak terhadap pelatihan perilaku.

Ledakan Memicu Panik dan Kejang

RemajaLokasiKondisi Saat Gempuran
Ahmed Hatem al-Mahabeel, 16 tahunKhan YounisMenutup telinga, bergoyang, mengalami panik berat, dan dapat membenturkan kepala ke tanah.
Muneer al-Haj, 19 tahunKamp NuseiratMengalami kejang dan jeritan histeris, dengan dosis obat yang dipangkas menjadi setengah tablet per hari.

Ahmed pernah menunjukkan perkembangan yang berarti dengan menghafal Al-Quran, menguasai bahasa Inggris, dan berolahraga mandiri. Sebelum perang, ia juga dapat pergi sendiri ke masjid dan klub olahraga.

Perang menghancurkan kamar tidur, sekolah, dan akademi sepak bola yang menjadi bagian dari kesehariannya. Umm Ahmed mengatakan suara mendadak menjadi pemicu yang sangat berat bagi putranya.

“Ketika ledakan terdengar, dia mengalami serangan panik parah, menutup telinga, dan bergoyang,” kata Umm Ahmed sebagaimana dikutip Suara.com. Saat ketakutan ekstrem, Ahmed dilaporkan menyakiti diri dengan membenturkan kepalanya ke tanah.

Kekurangan gizi dan defisiensi protein dikaitkan dengan pecahnya usus buntu yang dialaminya. Infeksi luka setelah kondisi tersebut membuat tim medis melakukan operasi kedua.

Setelah operasi, Ahmed lebih banyak mengurung diri di dalam ruangan karena Gaza belum sepenuhnya aman. Keadaan tersebut memperlihatkan bagaimana ancaman fisik dan tekanan sensorik dapat berlangsung bersamaan.

Obat yang Berkurang Memperbesar Ancaman

Muneer sebelumnya gemar menggambar dan mampu berkomunikasi serta mengekspresikan dirinya dengan jelas. Kini, menurut ayahnya, Abu Muneer, ia dapat mondar-mandir sambil mengepalkan tangan ketika mendengar serangan udara.

Blokade pasokan medis membuat keluarganya mengurangi dosis obat putranya menjadi setengah tablet sehari. Abu Muneer mengatakan ruang aman bagi Muneer telah larut oleh kesulitan dan ketakutan yang terus berlangsung.

Abu Aoun memperingatkan penghentian mendadak atau pengurangan paksa obat psikiatri dan anti-kejang dapat mengganggu kimia otak secara parah. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko kejang, konvulsi akut, serta dorongan menyakiti diri sendiri.

Orang tua akhirnya harus menenangkan anak saat pengeboman berlangsung tanpa obat dan fasilitas yang memadai. Pertanyaan mendesak dari Muneer ketika cemas juga sulit dijawab, dan kecemasan yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi serangan berat.

Konfrontasi bersenjata yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73.380 orang di Gaza. Kerusakan infrastruktur kesehatan dan pendidikan khusus memperpanjang risiko bagi anak berkebutuhan khusus yang memerlukan perawatan berkelanjutan.

Baca Juga