BRIN membuka penerimaan proposal RIIM Kompetisi 2026 Batch 2 pada 1 hingga 31 Juli 2026. Setiap tim berpeluang memperoleh pendanaan hingga Rp250 juta per tahun untuk mengembangkan riset yang siap dimanfaatkan.
Pola pendaftaran tahun ini menggunakan dua gelombang, berbeda dari pelaksanaan RIIM sebelumnya yang dibuka sepanjang tahun. Pengusul perlu menyiapkan dokumen sejak awal karena seleksi mencakup administrasi, substansi, dan evaluasi keuangan.
Rangkaian Seleksi hingga Desember
| Tahap | Jadwal Batch 2 |
|---|---|
| Penerimaan proposal | 1–31 Juli 2026 |
| Proses seleksi | Agustus–November 2026 |
| Penetapan Surat Keputusan Penerima | Desember 2026 |
Penilaian proposal berlangsung setelah periode penerimaan berakhir pada Juli. Tim perlu memastikan substansi penelitian dan RAB telah memenuhi ketentuan sebelum proposal diajukan.
RIIM Kompetisi 2026 ditujukan bagi riset yang mempunyai arah adopsi oleh industri atau masyarakat. Karena itu, persetujuan dari industri atau lembaga menjadi syarat yang harus dipenuhi pengusul.
Prototipe Didorong ke Tahap Adopsi
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN merancang program ini untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan pemanfaatan di lapangan. Pendanaan diharapkan membantu prototipe bergerak menuju tahap inovasi yang lebih siap digunakan.
Maiforleon dari Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN mengatakan, “Melalui program ini, BRIN berupaya menjembatani hilirisasi agar prototipe hasil riset dapat berkembang menjadi inovasi yang siap diadopsi oleh industri maupun masyarakat luas.” Arah tersebut menjadikan dukungan calon pengguna sebagai unsur penting dalam pengajuan.
Ketua periset dapat berasal dari ASN atau non-ASN dan harus berkewarganegaraan Indonesia. Ketua minimal berpendidikan S2 atau sedang menempuh S3, sedangkan anggota minimal berpendidikan S1.
Tim terdiri atas satu ketua dan dua anggota. Setiap orang dapat terlibat paling banyak dalam tiga usulan proposal dan tidak sedang berada dalam masa sanksi.
Anggaran Lebih Besar untuk Kebutuhan Riset
BRIN menyalurkan dana hingga Rp250 juta per tahun dalam dua tahap, masing-masing sebesar 50 persen. Pengaturan komponen anggaran membuat dana terutama diarahkan untuk kebutuhan nonpersonel.
| Komponen | Porsi Pendanaan |
|---|---|
| Biaya langsung personel | Maksimal 25% |
| Biaya langsung nonpersonel | Minimal 70% |
| Biaya tidak langsung | Maksimal 5% |
RAB harus menyesuaikan batas untuk setiap komponen tersebut. Ketidakselarasan perencanaan biaya dapat menjadi perhatian dalam tahap evaluasi keuangan proposal.
Sembilan Tema yang Diprioritaskan
Bidang yang menjadi prioritas mencakup kedaulatan pangan, energi, dan kesehatan. Tema lain meliputi ketahanan air dan lingkungan hidup berkelanjutan, penguatan industri strategis, ketahanan sosial dan masyarakat, serta pengembangan kedirgantaraan dan kemaritiman.
Pengembangan ketenaganukliran dan topik lain yang ditetapkan melalui skema riset khusus juga masuk dalam ruang lingkup program. Pengusul perlu mencocokkan rencana riset dengan salah satu arah prioritas tersebut.
BRIN tidak menerima usulan ekspedisi dan eksplorasi dalam skema ini. Riset kelapa sawit melalui BPDPKS, uji praklinik, uji klinik, uji validasi atau mutu, proses manufaktur, serta riset survei juga dikecualikan.
Dengan jadwal penerimaan yang terbatas sepanjang Juli, tim perlu menuntaskan persetujuan industri atau lembaga dan menyiapkan RAB lebih awal. Proposal yang lolos seluruh penilaian akan ditetapkan melalui Surat Keputusan Penerima pada Desember 2026.






