Lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata sebelumnya oleh Israel tercatat oleh pasukan penjaga perdamaian PBB. Catatan itu memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan Lebanon ketika Iran mengaitkan perdamaian dengan Amerika Serikat pada penghentian serangan Israel.
Konflik terbaru juga telah menimbulkan ribuan korban jiwa di Lebanon dan puluhan korban meninggal di Israel. Kondisi tersebut membuat kerangka damai yang dimediasi Amerika Serikat menghadapi tekanan besar untuk segera dijalankan.
Gambaran Dampak Konflik
Data yang dikutip Suara.com menunjukkan dampak konflik tidak hanya terukur melalui sengketa wilayah, tetapi juga korban di kedua pihak. Berikut catatan angka yang disebut dalam laporan tersebut.
| Pihak atau lembaga | Data | Penjelasan |
|---|---|---|
| Lebanon | 4.329 orang tewas | Korban dalam konflik terbaru |
| Israel | 37 tentara dan 4 warga sipil tewas | Korban meninggal di pihak Israel |
| Pasukan penjaga perdamaian PBB | Lebih dari 10.000 pelanggaran | Pelanggaran gencatan senjata sebelumnya oleh Israel |
Angka pelanggaran yang dicatat pasukan penjaga perdamaian PBB menambah keraguan atas efektivitas mekanisme gencatan senjata. Pelaksanaan kesepakatan baru pun dipandang sulit selama aktivitas militer di wilayah perbatasan masih berlanjut.
Iran Menetapkan Syarat
Mojtaba Khamenei menyatakan Iran menempatkan perlindungan integritas wilayah Lebanon sebagai kepentingan utama. Melalui unggahan di X pada Minggu (26/7), ia meminta Israel menghentikan agresi tanpa syarat.
“Iran menetapkan perlindungan integritas wilayah Lebanon dan penghentian tanpa syarat agresi rezim Zionis sebagai syarat utama untuk mengakhiri perang yang dipaksakan,” tulis Khamenei. Pernyataan tersebut menghubungkan langsung keadaan di Lebanon dengan peluang dialog antara Iran dan Amerika Serikat.
Khamenei juga menyampaikan dukungan terbuka terhadap Hizbollah dan warga di Lebanon selatan. Ia menyinggung mendiang Hassan Nasrallah dalam pernyataan yang menegaskan arah kebijakan Iran tersebut.
“Iran menganggap pembelaan terhadap para pejuang yang tertindas namun kuat ini sebagai mandat strategis,” lanjutnya. Sikap itu muncul ketika Hizbollah menghadapi tuntutan untuk menyerahkan senjatanya.
Kerangka Damai Terhambat di Lapangan
Amerika Serikat pada 26 Juni memediasi kesepakatan kerangka damai, tetapi pelaksanaannya berjalan lambat. Penarikan pasukan Israel dirancang bertahap tanpa batas waktu yang pasti.
Israel menyatakan penarikan akan dilakukan setelah Hizbollah dilucuti, sedangkan Hizbollah menolak syarat tersebut. Perbedaan posisi itu membuat proses deeskalasi belum menghasilkan titik temu.
Israel menginvasi Lebanon pada 2024 dan dilaporkan masih menguasai sebagian wilayah di Lebanon selatan. Militer Lebanon menyebut penarikan dari zona yang telah ditetapkan turut terhambat oleh keberadaan pasukan Israel.
Operasi pembuldoseran, penembakan, dan patroli dengan persenjataan berat masih dilaporkan berlangsung. Keadaan di lapangan itu menjadi alasan utama mengapa isu keamanan Lebanon tetap membayangi jalur diplomasi regional.
Ketegangan Meluas di Kawasan
Pernyataan Khamenei disampaikan ketika konflik regional tidak hanya berpusat di Lebanon. Ketegangan di Yaman juga meningkat akibat saling serang antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.
Selama penarikan pasukan Israel dan status Hizbollah belum disepakati, peluang menjalankan kerangka perdamaian akan tetap terbatas. Tuntutan Iran menandakan perkembangan di Lebanon menjadi faktor menentukan dalam hubungan Teheran dan Washington.






