Bertambahnya outstanding SBN mendorong kenaikan pembayaran bunga utang pemerintah pada 2025. Realisasi belanja bunga mencapai Rp514,39 triliun, naik 5,32% dibandingkan Rp488,42 triliun pada 2024.
Kenaikan tersebut terutama terlihat pada utang dalam negeri jangka panjang dan imbalan SBSN jangka panjang. Kedua komponen itu menjadi penopang terbesar pembayaran bunga dalam pelaksanaan APBN 2025.
BPK menyebut peningkatan outstanding SBN mendorong kenaikan pembayaran bunga Obligasi Negara. Pembayaran bunga pinjaman dalam negeri, imbalan SBSN jangka panjang, serta bunga Obligasi Negara dalam valuta asing yang lebih tinggi juga memengaruhi realisasi.
Instrumen jangka panjang domestik mencatat pembayaran bunga Rp361,73 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi sebelumnya yang berjumlah Rp344,23 triliun.
Komponen Utama Pembayaran Bunga
Imbalan SBSN jangka panjang mencapai Rp97,49 triliun pada 2025. Nilainya meningkat dari Rp89,24 triliun pada periode sebelumnya.
Bunga utang luar negeri jangka panjang tercatat Rp43,09 triliun. Pos ini naik tipis dari Rp42,48 triliun.
| Jenis Pembayaran | Realisasi 2025 | Realisasi Sebelumnya |
|---|---|---|
| Bunga utang dalam negeri jangka panjang | Rp361,73 triliun | Rp344,23 triliun |
| Imbalan SBSN jangka panjang | Rp97,49 triliun | Rp89,24 triliun |
| Bunga utang luar negeri jangka panjang | Rp43,09 triliun | Rp42,48 triliun |
| Diskonto surat utang negara | Rp7,63 triliun | Rp5,7 triliun |
| Loss on bond redemption | Rp35,5 miliar | Rp160,31 miliar |
Pembayaran diskonto surat utang negara juga bergerak naik menjadi Rp7,63 triliun. Pada periode sebelumnya, nilainya sebesar Rp5,7 triliun.
Namun, terdapat komponen yang justru mengalami penurunan. Pembayaran loss on bond redemption atas pembelian kembali Obligasi Negara turun dari Rp160,31 miliar menjadi Rp35,5 miliar.
Belanja pembayaran imbalan SBSN pada pos lain juga menurun. Realisasinya menjadi Rp4,39 miliar dari sebelumnya Rp6,59 miliar.
Realisasi Mendekati Anggaran
Total pembayaran bunga utang 2025 telah menggunakan 93,04% dari pagu APBN sebesar Rp552,85 triliun. Pemerintah masih memiliki selisih antara realisasi dan anggaran yang telah dialokasikan.
Dalam laporan pemeriksaannya, BPK mencatat realisasi sebesar Rp514.394.982.025.629 dari anggaran Rp552.854.291.469.000. Besaran ini menegaskan posisi pembayaran bunga sebagai salah satu komponen utama belanja negara.
Pertumbuhan pembayaran bunga pada 2025 memang lebih rendah daripada kenaikan setahun sebelumnya. Pada 2024, belanja bunga meningkat 11,03% dari Rp439,88 triliun menjadi Rp488,42 triliun.
Meski laju pertumbuhannya melambat, nominal pembayaran tetap meningkat pada 2025. Data BPK menunjukkan perubahan tersebut terutama terkonsentrasi pada instrumen jangka panjang, sejalan dengan bertambahnya SBN yang masih beredar.






