Obat Ramah Lingkungan Jangan Sampai Sulit Didapat, Ini Strategi WHO untuk Regulator

Obat yang lebih ramah lingkungan tidak boleh menjadi barang yang lebih sulit diperoleh pasien. WHO meminta regulator menjaga keseimbangan antara penurunan emisi industri farmasi, keterjangkauan harga, dan ketahanan pasokan obat.

Pesan itu menyasar perubahan di seluruh perjalanan produk, bukan hanya di pabrik. Mulai dari produksi, distribusi, penggunaan, hingga pembuangan, setiap tahap berpotensi menyumbang emisi gas rumah kaca.

Regulator Memegang Peran Penentu

Regulator obat memiliki mandat utama untuk memastikan obat aman, bermutu, dan efektif. WHO menilai mandat tersebut dapat sekaligus digunakan untuk membentuk lingkungan yang mendukung inovasi serta keberlanjutan.

Direktur Departemen Regulasi dan Prakualifikasi WHO, Dr. Rogério Gaspar, mengatakan tantangan dekarbonisasi kini terletak pada kecepatan dan keadilannya. “Pertanyaannya bukan lagi apakah dekarbonisasi industri farmasi itu mungkin. Tantangan sebenarnya adalah seberapa cepat dan adil kita dapat mewujudkannya,” kata Rogério.

WHO menekankan bahwa transisi menuju nol emisi bersih tidak semestinya menciptakan risiko baru bagi pasien. Persyaratan keberlanjutan harus dirancang agar tidak menghambat produsen, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Data Emisi Menjadi Persoalan Bersama

Sektor kesehatan global menyumbang sekitar 5 persen emisi gas rumah kaca. WHO mencatat emisi sektor ini meningkat 77 persen dari 1995 hingga 2019, sedangkan emisi terkait konsumsi global bertambah sekitar 49 persen.

Perbandingan kinerja lingkungan masih sulit dilakukan karena metode pengukuran emisi dapat berbeda antara produsen dan negara. Karena itu, WHO mendorong data bersama, pemetaan sumber emisi terbesar, serta pelaporan emisi secara sukarela.

Penyelarasan data diharapkan membuat kebijakan lebih konsisten dan mengurangi pekerjaan administratif yang tidak perlu. Regulator juga dapat memakai data tersebut untuk mengenali titik dalam rantai pasok yang paling membutuhkan perbaikan.

Pilar WHOMasalah yang DitanganiArah Tindakan
Literasi iklimRegulator perlu memahami sumber emisiKeberlanjutan masuk program pelatihan
Pengukuran emisiData belum mudah dibandingkanStandar dan pemetaan emisi bersama
Jalur inovasiTeknologi rendah dampak perlu ruang dialogKonsultasi awal dengan produsen

Inovasi Tetap Harus Melewati Pengawasan

WHO mengusulkan ruang dialog awal bagi produsen yang mengembangkan teknologi atau produk dengan dampak lingkungan lebih rendah. Pendekatan tersebut tidak mengurangi pengawasan yang diperlukan untuk menjamin mutu, keamanan, dan efektivitas obat.

Dr. Delese Mimi Darko, Direktur Jenderal Badan Obat-obatan Afrika, menilai keberlanjutan dalam regulasi dapat memberi dampak lebih luas bagi sistem kesehatan. “Dengan menanamkan keberlanjutan ke dalam kerangka kerja peraturan kita, kita dapat mendukung inovasi, memperkuat manufaktur lokal, dan membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh,” ujarnya.

Dukungan bagi manufaktur lokal penting agar perubahan aturan tidak hanya menguntungkan produsen dengan sumber daya besar. WHO memandang peningkatan kapasitas, transfer teknologi, pembiayaan berkelanjutan, dan kerja sama antarnegara sebagai bagian dari kebutuhan transisi.

BPOM Indonesia Memakai Informasi Digital

Salah satu langkah praktis datang dari BPOM Indonesia melalui uji coba informasi produk elektronik pada periode 2023–2025. Informasi yang lazim dicetak pada kemasan atau lembar kertas dapat diakses secara digital melalui kode QR.

Skema ini berpotensi mengurangi penggunaan kertas, pencetakan, dan distribusi materi informasi. Konsumen tetap dapat memperoleh informasi produk melalui perangkat digital dengan lebih mudah.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat diterapkan melalui perubahan cara informasi obat disampaikan. Target WHO bukan hanya emisi yang lebih rendah, melainkan pasokan obat yang tetap aman, efektif, terjangkau, dan merata bagi pasien.

Baca Juga