Nyeri saat berhubungan intim setelah melahirkan tidak selalu disebabkan oleh otot panggul yang melemah. Otot yang terlalu tegang juga dapat memicu rasa sakit dan membuat latihan tanpa pemeriksaan menjadi tidak selalu tepat.
Keluhan seksual pascamelahirkan tidak semestinya dianggap sebagai keadaan yang harus diterima begitu saja. Pemeriksaan dapat membantu mengenali apakah masalah berkaitan dengan kekuatan otot, ketegangan, pola pernapasan, atau faktor pemulihan lain.
Dampak pada kenyamanan seksual
Perubahan fungsi otot dasar panggul dapat membuat hubungan seksual terasa nyeri atau tidak nyaman. Sebagian perempuan juga dapat mengalami kesulitan mencapai orgasme setelah persalinan.
Survei terhadap lebih dari 600 perempuan mencatat 1 dari 3 perempuan yang melahirkan dalam lima tahun terakhir mengalami nyeri saat seks. Temuan ini menunjukkan keluhan tersebut bukan persoalan yang jarang terjadi.
Rasa sakit saat berhubungan dapat hadir bersama gejala lain, termasuk tekanan atau rasa berat di area panggul. Nyeri tulang ekor, nyeri punggung bawah, dan sembelit juga dapat menyertai gangguan pada area tersebut.
Gejala lain sering luput dari penanganan
Kebocoran urine merupakan salah satu tanda yang paling mudah dikenali setelah melahirkan. Urine dapat keluar tanpa sengaja ketika batuk, bersin, tertawa, atau melakukan aktivitas fisik.
Dalam survei yang sama, 67 persen perempuan melaporkan mengalami kebocoran urine. Namun, banyak keluhan pascamelahirkan belum mendapatkan diagnosis maupun panduan pemulihan yang memadai.
| Temuan Terkait Keluhan Pascamelahirkan | Angka |
|---|---|
| Responden bergejala tanpa diagnosis | 96 persen |
| Responden tanpa panduan pemulihan otot panggul | 86 persen |
| Perempuan dengan kebocoran urine | 67 persen |
| Perempuan dengan nyeri saat seks dalam lima tahun setelah persalinan | 1 dari 3 |
Sebanyak 96 persen responden yang mengalami gejala dilaporkan belum memperoleh diagnosis. Sementara itu, 86 persen responden tidak menerima panduan tentang pemulihan otot dasar panggul setelah melahirkan.
Area panggul menanggung tekanan selama kehamilan
Otot dasar panggul menopang kandung kemih, rahim, dan rektum. Kehamilan serta persalinan dapat memberikan tekanan yang besar terhadap jaringan dan fungsi otot di area tersebut.
Ketika otot tidak mampu berkontraksi, rileks, atau bekerja dengan baik, kondisi itu dikenal sebagai disfungsi otot dasar panggul. Gangguan dapat terjadi pada otot yang lemah maupun otot yang terlalu tegang.
Fisioterapis Liz Miracle, MSPT, WCS, mengatakan peningkatan berat tubuh selama membawa bayi sudah menambah tekanan pada otot dasar panggul. Otot tersebut perlu beradaptasi terhadap perubahan fisik yang berlangsung selama kehamilan.
“Bahkan hanya dengan bertambahnya berat badan yang dibutuhkan untuk membawa bayi di dalam tubuh, tekanan pada otot dasar panggul sudah meningkat. Otot dasar panggul harus beradaptasi untuk menghadapi tantangan tersebut,” kata Miracle, dikutip Kompas.com dari Parents.
Penilaian khusus dapat membantu menentukan terapi
Fisioterapis kesehatan panggul dapat melakukan pemeriksaan sesuai kondisi dan keluhan pasien. Penanganan dapat mencakup latihan otot, teknik pernapasan, serta latihan mandiri yang dilakukan di rumah.
Bijal Toprani, PT, DPT, menyarankan perempuan yang memiliki keluhan setelah persalinan menjalani evaluasi. Ia menjelaskan pemeriksaan enam minggu pascamelahirkan biasanya berfokus pada penyembuhan jaringan atau luka operasi caesar.
Pemeriksaan rutin tersebut tetap diperlukan, tetapi memiliki cakupan berbeda dari penilaian fungsi otot panggul oleh fisioterapis kesehatan panggul. Evaluasi khusus dapat melihat masalah yang mungkin tidak tercakup dalam pemeriksaan pemulihan biasa.
“Tidak ada yang salah dengan diri kamu. Waktu enam minggu hanyalah batas waktu yang sering disebut, bukan berarti kamu harus langsung kembali seperti sebelum melahirkan,” ujar Toprani.
Dokter atau fisioterapis kesehatan panggul dapat menjadi tempat berkonsultasi bila nyeri saat seks, kebocoran urine, tekanan panggul, atau keluhan lain sudah mengganggu aktivitas. Pemulihan setelah melahirkan dapat berlangsung berbeda pada setiap perempuan.






