Setelah Gempa Magnitudo 7,7, NTT Hadapi 235 Susulan dan Ribuan Warga Mengungsi

Pemerintah menyiapkan pengiriman 50.000 paket sembako bagi warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur ketika aktivitas susulan masih berlangsung. Bantuan itu direncanakan didistribusikan melalui Maumere sebagai bagian dari penanganan masa tanggap darurat.

Penerbangan khusus dengan pesawat Boeing TNI AU 737 dijadwalkan berangkat dari Halim Perdanakusuma menuju Labuan Bajo pada pukul 20.00 WIB. Pesawat tersebut membawa jajaran menteri teknis serta bantuan Presiden.

Langkah logistik itu dilakukan ketika sekitar 2.000 warga tercatat mengungsi secara mandiri. BNPB juga mencatat 38 orang meninggal dunia hingga Sabtu pukul 15.00 WIB.

Dampak Gempa Memicu Penanganan Darurat

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebut terdapat dua warga yang mengalami luka berat dan 11 orang mengalami luka ringan. “Terdata ada 38 jiwa yang meninggal dunia,” ujar Suharyanto dalam pembaruan penanganan darurat.

DampakJumlah
Meninggal dunia38 orang
Luka berat2 orang
Luka ringan11 orang
Mengungsi mandiriSekitar 2.000 orang

Pemerintah akan mengaktifkan posko penanggulangan bencana untuk mempercepat koordinasi di lapangan. Tim gabungan dijadwalkan menuju Kabupaten Ende untuk menggelar rapat tingkat provinsi dan kota.

Keberangkatan tim itu melibatkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Kepala BNPB. Koordinasi di Ende ditujukan untuk mendukung respons darurat di wilayah yang terkena dampak gempa.

Frekuensi Susulan Belum Menurun

Di saat bantuan dan penanganan disiapkan, BMKG masih memantau aktivitas gempa susulan yang belum mengalami peluruhan berarti. Hingga Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, tercatat 235 gempa susulan setelah gempa magnitudo 7,7.

Magnitudo guncangan susulan berkisar antara 2,5 hingga 6,2. Sebagian besar aktivitas tersebut berpusat di bagian utara Pulau Flores.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hasil pengamatan dari jam ke jam belum menunjukkan penurunan aktivitas yang jelas. “Dari jam ke jam kita amati, hingga saat ini belum mengalami peluruhan,” kata Faisal dalam konferensi pers darurat.

Menurut Faisal, pola tersebut masih normal setelah gempa berkekuatan besar. Ia memperkirakan masa peluruhan aktivitas susulan dapat berlangsung dua hingga tiga minggu.

Perkiraan itu disampaikan dengan membandingkan pola pascagempa di Maluku Utara yang baru-baru ini terjadi. Gempa susulan tidak selalu berkekuatan sama seperti gempa utama, tetapi tetap dapat dirasakan masyarakat di kawasan terdampak.

Warga Diminta Mengikuti Informasi Resmi

BMKG meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan selama aktivitas seismik masih terpantau. Warga perlu memperhatikan perkembangan informasi dari pihak berwenang untuk menghadapi kemungkinan getaran berikutnya.

Proses peluruhan gempa susulan membutuhkan waktu sehingga kesiapsiagaan tetap menjadi perhatian utama. Penyaluran bantuan dan koordinasi lintas instansi diharapkan mendukung kebutuhan warga selama respons darurat berlangsung.

Baca Juga