Nigeria baru memiliki sekitar 48 stasiun pengisian kendaraan listrik publik hingga akhir 2025, terutama di Lagos dan Abuja. Di saat yang sama, pemerintah menargetkan kendaraan listrik dapat membentuk 60 persen armada nasional pada 2050.
Kontras ini memperlihatkan besarnya pekerjaan yang harus dilakukan untuk membangun transportasi rendah emisi di Nigeria. Infrastruktur pengisian yang terbatas juga berada dalam jaringan listrik nasional berkapasitas sekitar 4.000 megawatt.
Jarak lebar dengan kebutuhan pasar
Kapasitas tersebut melayani populasi lebih dari 200 juta jiwa. Kondisi itu menyebabkan ketersediaan listrik per kapita Nigeria menjadi salah satu yang terendah di antara negara-negara ekonomi utama.
Pemadaman sering terjadi dan membuat banyak rumah tangga serta pelaku usaha memakai generator diesel maupun bensin. Bagi pemilik kendaraan listrik, ketidakstabilan ini menimbulkan pertanyaan mengenai kepastian pengisian daya harian.
| Indikator | Jumlah | Perbandingan atau target |
|---|---|---|
| Stasiun pengisian publik Nigeria | Sekitar 48 | Hingga akhir 2025 |
| Stasiun pengisian publik Afrika Selatan | Lebih dari 500 | Jauh lebih banyak dari Nigeria |
| Proyeksi pengisian Nigeria | Sekitar 60 | Pada 2030 |
Rencana Transisi Energi Nigeria memperkirakan jumlah fasilitas pengisian publik mencapai sekitar 60 titik pada 2030. Sebagian pengguna saat ini memilih mengisi baterai di rumah menggunakan kabel portabel karena pilihan fasilitas publik belum luas.
Insentif tetap digulirkan
Pemerintah Nigeria tetap mendorong pembelian dan perakitan kendaraan listrik secara lokal. Kendaraan listrik dibebaskan dari Pajak Pertambahan Nilai pada 2024, sedangkan bea masuk dipangkas dari 5 persen menjadi 0 persen tahun ini.
Data pemerintah menunjukkan hampir 4.000 pembebasan pajak kendaraan listrik telah disetujui pada semester pertama tahun ini. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan transportasi pada bahan bakar fosil.
Meski insentif diperluas, kendaraan listrik masih menyumbang kurang dari 1 persen dari total kendaraan di Nigeria. Pasar otomotif negara itu juga masih didominasi kendaraan bekas, menurut Leon Zhan, Kepala Tim Motors.
Produsen memilih teknologi yang lebih fleksibel
Kondisi pasokan daya mendorong produsen menyesuaikan pilihan teknologi bagi konsumen Nigeria. Kendaraan EREV menggabungkan baterai dengan mesin pembakaran kecil agar jarak tempuh dapat diperpanjang ketika pengisian listrik menjadi persoalan.
Penjualan EREV disebut telah meningkat dua kali lipat tahun ini. BYD dan Geely juga memperluas penawaran kendaraan hibrida serta kendaraan listrik yang dipandang lebih sesuai dengan kondisi energi setempat.
Tim Motors, mitra lokal Geely, mencatat kendaraan energi baru menyumbang sekitar 2 persen dari total penjualan perusahaan. Angka itu menunjukkan pasar mulai terbentuk, walau pangsanya masih kecil.
Generator masih menyertai ekosistem listrik
Gangguan pasokan tidak hanya dialami pemilik kendaraan. Stasiun pengisian daya, dealer, dan penyedia layanan penukaran baterai dapat bergantung pada generator cadangan saat listrik dari jaringan terputus.
Bolanle Boboye, eksekutif Saglev yang berafiliasi dengan Dongfeng dari China, menyatakan transisi kendaraan tidak perlu menunggu pembenahan jaringan selesai. “Jika kita menunggu pasokan listrik menjadi sempurna sebelum mengadopsi kendaraan listrik, seluruh dunia akan meninggalkan kita,” ujarnya seperti dikutip Reuters.
Motor listrik menawarkan dampak langsung
Sepeda motor dan kendaraan roda tiga dinilai menjadi jalur elektrifikasi yang lebih memungkinkan dalam jangka pendek. Nigeria memiliki lebih dari 15 juta sepeda motor, sementara biaya bahan bakar meningkat setelah pencabutan subsidi bensin pada 2023.
Stanley Nwankwo, salah satu pendiri Donda X Limited, menyebut motor listrik dapat mengurangi dua pertiga biaya operasional dibandingkan kendaraan bensin. MAX dan Spiro pun berinvestasi dalam layanan penukaran baterai agar pengendara dapat mengganti baterai habis dalam hitungan menit.
Model tersebut dapat menekan waktu tunggu pengisian dan mengurangi ketergantungan langsung pengendara pada jaringan rumah. Namun, perluasan kendaraan listrik Nigeria tetap bergantung pada pembangunan pengisian publik serta pasokan listrik yang lebih andal.






