Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan berlapis menjelang pemilihan umum Israel, mulai dari persaingan survei hingga belum turunnya dukungan resmi Donald Trump. Situasi itu semakin rumit setelah Trump dilaporkan menyebut Netanyahu sebagai “musuh terburuk bagi dirinya sendiri”.
Kritik dari presiden Amerika Serikat tersebut berpotensi menjadi beban politik bagi Netanyahu dan Partai Likud. Dukungan Washington dinilai penting karena Trump memiliki pengaruh besar dalam dinamika hubungan Amerika Serikat dan Israel.
Likud kini bersaing ketat dengan Yashar yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot. Dalam beberapa survei, partai Eisenkot disebut melampaui Likud dan dipandang lebih berpeluang membentuk pemerintahan.
| Blok Politik | Tokoh Utama | Gambaran Elektoral |
|---|---|---|
| Likud dan koalisinya | Benjamin Netanyahu | Sekitar 50 dari 120 kursi parlemen |
| Yashar | Gadi Eisenkot | Berada di depan Likud dalam sejumlah survei |
Gambaran survei itu menjadi perhatian Trump, menurut dua pejabat senior yang dikutip Axios. Mereka menyebut faktor tersebut ikut menjelaskan mengapa Gedung Putih belum memberikan dukungan terbuka kepada Netanyahu.
Saat Netanyahu mengunjungi Washington bulan lalu, Trump dilaporkan menanyakan langsung peluang kemenangannya. Netanyahu disebut sempat ragu menjawab pertanyaan tentang posisi elektabilitasnya sebelum seorang ajudan mengatakan bahwa ia berada di depan.
Hubungan Dekat yang Diwarnai Ketegangan
Trump dan Netanyahu dilaporkan memiliki kedekatan pribadi, tetapi hubungan itu dibayangi kekecewaan atas sejumlah keputusan pemerintah Israel. Perbedaan mereka mencakup isu Iran, Lebanon, serta operasi militer di Gaza.
Dua sumber yang pernah berbicara langsung dengan Trump menyebut presiden AS itu menggunakan kritik tajam saat membahas Netanyahu. “Bibi adalah musuh terburuk bagi dirinya sendiri,” kata Trump, dengan Bibi sebagai panggilan umum bagi perdana menteri Israel tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, kedua pemimpin disebut berkali-kali tidak sejalan dalam menentukan pendekatan terhadap isu regional. Trump bahkan dilaporkan pernah memarahi Netanyahu hingga menggunakan kata kasar saat perbedaan itu mengemuka.
Perselisihan paling menonjol terjadi dalam pembahasan rencana perdamaian untuk Gaza. Trump sebelumnya menyatakan ada kemajuan dalam proposal 15 poin yang mencakup penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut dan pelucutan senjata Hamas.
Netanyahu menegaskan Israel menolak peta jalan itu tanpa proses pelucutan senjata yang benar-benar nyata. Pemerintah Israel tidak bersedia menarik pasukan dari Gaza sebelum syarat tersebut terpenuhi.
Dalam rapat kabinet, Netanyahu menyatakan Israel mengetahui cara mempertahankan posisinya, termasuk ketika berhadapan dengan sahabat terbaiknya. Ucapan itu dipahami sebagai penegasan bahwa Israel dapat berbeda pandangan dengan Amerika Serikat.
Oposisi Mengawasi Langkah Gedung Putih
Rival-rival Netanyahu tidak mengabaikan kemungkinan Trump mengubah sikap menjelang pemilu Israel pada Oktober. Gadi Eisenkot, Naftali Bennett, dan Yair Lapid dilaporkan mengirim pesan melalui jalur informal kepada orang-orang dekat Trump agar Washington menjaga netralitas.
Kekhawatiran oposisi muncul karena Trump memiliki rekam jejak memberikan dukungan kepada sekutu politik dalam pemilihan di berbagai negara. Pada Juni, Trump mengatakan kemungkinan besar akan mendukung Netanyahu, tetapi ingin melihat lebih dulu siapa lawan yang akan dihadapi.
Belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih mengenai dukungan tersebut. Dengan survei yang ketat dan perbedaan kebijakan yang belum selesai, keputusan Trump dapat memengaruhi dinamika kampanye Partai Likud dalam bulan-bulan mendatang.






