Bukan Sekadar Pembawa Baki, Neeltje Wakili Papua pada Momen Penurunan Bendera

Neeltje Deliana Insjowi Werimon dipercaya menjadi pembawa baki pada upacara penurunan Sang Merah Putih dalam peringatan HUT ke-81 RI. Kepercayaan itu membuat siswi SMA Negeri 8 Jayapura tersebut mewakili Papua pada salah satu momen inti upacara kenegaraan.

Pembawa baki memiliki peran langsung dalam prosesi bendera bersama anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Tugas Neeltje berlangsung pada sesi penurunan, sementara sesi penaikan bendera diisi petugas dari Kalimantan Barat.

SesiPetugas UtamaPetugas Cadangan
Penaikan benderaCeline Olivia Apriani Theo, Kalimantan BaratEighteen Jeanette Hekboy, Nusa Tenggara Timur
Penurunan benderaNeeltje Deliana Insjowi Werimon, PapuaIsmi Ulfaidah, Sulawesi Barat

Celine Olivia Apriani Theo merupakan siswi SMK Negeri 5 Pontianak. Sementara itu, Eighteen Jeanette Hekboy berasal dari SMA Negeri 1 Kupang dan bertugas sebagai pembawa baki cadangan pada sesi pagi.

Dalam sesi penurunan bendera, Neeltje didampingi Ismi Ulfaidah sebagai petugas cadangan. Ismi merupakan perwakilan Sulawesi Barat dan tercatat sebagai siswi Sekolah Rakyat pertama yang lolos menjadi Paskibraka Nasional.

Mandat Nasional dari Siswi SMA Negeri 8 Jayapura

Neeltje, yang akrab disapa Nel, lahir di Jayapura pada 15 Mei 2010. Ia merupakan putri pasangan Aiwoisendin Hendrik Werimon dan Steffi Edithya Florence Awom.

Nel memiliki darah Papua, Belanda, Maluku, dan Sunda. Latar tersebut menyertai perjalanan putri daerah Papua yang kemudian mendapat amanah pada upacara nasional.

Menurut keterangan yang dikutip detik.com, Neeltje pernah menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Ia aktif menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam kesehariannya.

Pengalaman kepemimpinannya juga telah terbentuk sejak masa sekolah. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Jayapura melalui Instagram menyebut ia pernah menjadi Ketua OSIS di SMP YPJ Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Disiplin dari Latihan Paskibra

Setelah kembali ke Papua, Neeltje memilih memperkuat kemampuannya melalui kegiatan Paskibra di sekolah. Proses latihan yang dijalaninya menuntut disiplin dan kerja keras sebelum ia memperoleh penugasan sebagai pembawa baki.

Di luar kegiatan tersebut, Nel menekuni sejumlah aktivitas seni dan olahraga. Ia bermain piano, gitar, ukulele, bernyanyi, serta bermain tenis.

Keberhasilan masuk dalam formasi nasional dipandangnya sebagai kebanggaan yang melampaui pencapaian pribadi. Saat pembukaan pemusatan Paskibraka, ia menyatakan ingin membawa nama keluarga, sekolah, dan Papua.

“Saya sangat bangga sampai di sini. Ini bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk keluarga, sekolah, dan Papua,” ujar Nel. Pernyataan itu menggambarkan arti tugas pembawa baki bagi pelajar asal Jayapura tersebut.

Neeltje juga mengakui bahwa masa pemusatan tidak mudah karena harus berjauhan dengan orang tua. “Yang paling berat adalah tidak bisa bertemu orang tua selama pemusatan, tapi saya ingin membuktikan bahwa semua doa dan dukungan mereka tidak sia-sia. Saya akan memberikan yang terbaik,” tegasnya.

Penugasan pada upacara penurunan bendera menjadi titik penting dalam perjalanan Neeltje dari organisasi sekolah dan minat beragam menuju Paskibraka. Amanah itu sekaligus menempatkan perwakilan Papua dalam barisan yang menjalankan prosesi bendera nasional.

Baca Juga