Nasib 3 Pilot Iran di Qatar Dipersoalkan, ICRC Diminta Pastikan Hak Mereka

Iran menempatkan persoalan hak tawanan perang di pusat tuntutannya terhadap Qatar terkait tiga pilot yang disebut berada di negara tersebut. Teheran meminta ICRC memastikan para penerbang dapat berkomunikasi dengan keluarga dan perwakilan Iran.

Permintaan itu disampaikan setelah Iran menyatakan tiga pilotnya belum memperoleh akses pertemuan atau wawancara selama enam bulan terakhir. Qatar membantah tudingan bahwa mereka menahan para penerbang Iran secara rahasia.

Hak Komunikasi yang Diminta Iran

Dalam surat kepada Presiden ICRC Mirjana Spoljaric Egger, Brigadir Jenderal Seyyed Mohammad Bagherzadeh menyinggung Pasal 70 dan Pasal 78 Konvensi Jenewa Ketiga. Ia menyatakan keluarga tawanan perang dan kantor pusat ICRC seharusnya menerima pemberitahuan mengenai penahanan para pilot.

Surat tersebut juga menekankan hak tawanan perang untuk menyampaikan keluhan dan permintaan kepada perwakilan yang mendatangi tempat penahanan. Para tawanan disebut berhak berbicara langsung dengan perwakilan Palang Merah.

Bagherzadeh menyatakan Iran telah menggunakan berbagai jalur diplomatik untuk menindaklanjuti masalah itu. Namun, Teheran menganggap belum ada izin yang memungkinkan pihaknya bertemu dengan ketiga pilot.

Iran menyebut memiliki informasi yang dipercaya mengenai penangkapan para penerbang dalam keadaan hidup oleh pasukan Qatar. Atas dasar itu, Teheran meminta ICRC terlibat dalam upaya mengklarifikasi keberadaan mereka.

Permohonan Pemeriksaan Langsung

Selain meminta bantuan ICRC, Iran mendesak Qatar membuka pintu bagi tim pencari fakta dan ahli Angkatan Udara Iran. Tim tersebut disebut telah menunggu berbulan-bulan untuk memasuki Qatar dan melakukan penyelidikan langsung.

Permintaan itu kembali ditegaskan Bagherzadeh pada Minggu, 16 Agustus 2026. Pernyataan tersebut muncul sesudah Kementerian Luar Negeri Qatar membantah klaim penahanan tiga penerbang Iran.

“Alih-alih menyangkal masalah ini dan menghambat upaya untuk mengungkap kebenaran, pemerintah Qatar seharusnya mengizinkan tim pencari fakta dan tim ahli Angkatan Udara Republik Islam Iran datang ke Qatar,” kata Bagherzadeh seperti dilaporkan IRNA.

Menurut Iran, hambatan yang terjadi selama beberapa bulan telah menunda kepulangan para penerbang. Qatar, sebaliknya, tidak mengakui adanya penahanan rahasia sebagaimana dituduhkan Teheran.

Identitas Penerbang yang Dicari

Surat Iran menyebut empat pilot menjalankan misi tempur yang menyasar pangkalan militer musuh di Qatar. Satu pilot dilaporkan tewas setelah pesawat mereka terkena serangan, sedangkan tiga lainnya disebut berhasil melontarkan diri.

PilotKeterangan Iran
Javad SalehiDisebut berada di Qatar setelah melontarkan diri dari pesawat.
Abdolmajid DashtianDisebut berada di Qatar setelah melontarkan diri dari pesawat.
Omran BehraveshianDisebut berada di Qatar setelah melontarkan diri dari pesawat.

Iran menyatakan ketiga nama tersebut merupakan pilot yang masih hidup setelah insiden itu. Keterangan mengenai status mereka menjadi dasar tuntutan Teheran agar Qatar memberikan akses pemeriksaan.

Operasi Balasan yang Menjadi Latar

Menurut surat Iran, misi tempur tersebut dilakukan sebagai operasi balasan setelah serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu disebut dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel dari pangkalan di sejumlah negara Arab di pesisir selatan Teluk Persia.

Al Jazeera menyebut pangkalan yang dimaksud adalah Al Udeid. Iran menyatakan operasinya dilakukan untuk merespons serangan tersebut dan mempertahankan keutuhan wilayah negaranya.

Keterlibatan ICRC dan izin bagi tim ahli Angkatan Udara Iran kini menjadi dua tuntutan utama Teheran. Langkah itu diminta untuk memeriksa keberadaan tiga pilot sekaligus memastikan hak komunikasi mereka dapat dijalankan.

Baca Juga