Mazda baru memulai perakitan Mazda CX-30 di Citeureup, Bogor, tetapi pemerintah sudah melihat peluang pengembangan yang lebih jauh. Fasilitas tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pemasok pasar Indonesia dan dapat menjadi basis produksi untuk ekspor.
Target yang dibidik adalah Australia serta negara-negara ASEAN. Meski peluangnya terbuka, Mazda masih perlu membangun kemampuan produksi, pasar domestik, dan standar mutu sebelum kendaraan buatan Bogor dikirim ke luar negeri.
Dari Satu Model ke Peluang Produksi Lebih Luas
Perakitan Mazda CX-30 menjadi langkah awal bagi pengembangan fasilitas lokal. Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio, menyatakan perusahaan memiliki rencana yang lebih besar setelah tahap awal tersebut.
Ricky menjelaskan bahwa kemungkinan menambah model maupun memperluas tujuan pasar tetap tersedia. Namun, setiap langkah perlu ditempuh secara bertahap agar kendaraan yang diproduksi mampu memenuhi standar yang ditetapkan.
Pemerintah juga mendorong prinsipal Mazda di Jepang untuk menambah varian kendaraan yang dirakit di Indonesia. Kehadiran lebih banyak model lokal dinilai dapat memperkuat daya saing fasilitas manufaktur sekaligus memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok otomotif.
| Tahapan | Fokus Mazda | Hasil yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Tahap awal | Perakitan Mazda CX-30 | Penguatan produksi lokal |
| Tahap pengembangan | Penambahan peluang model | Skala produksi lebih besar |
| Tahap lanjutan | Standar mutu ekspor | Pasar Australia dan ASEAN |
Zero Defect Menjadi Target Pabrik
Pengendalian kualitas menjadi titik penting dalam rencana perluasan tersebut. Ricky menyatakan target perusahaan adalah zero defect untuk setiap kendaraan yang keluar dari Fasilitas Citeureup.
Standar itu diperlukan terutama jika Mazda ingin menambah model yang dirakit secara lokal. Pasar ekspor menuntut kualitas yang konsisten, sehingga volume atau ragam produksi tidak boleh tumbuh dengan mengorbankan mutu.
Karena itu, rencana ekspor tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengirim kendaraan ke negara lain. Mazda perlu membuktikan bahwa proses perakitan di Bogor dapat menghasilkan kendaraan sesuai standar yang dibutuhkan pasar tujuan.
Pemerintah Menunggu Penguatan Pasar Indonesia
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, berharap Indonesia dapat menjadi basis produksi otomotif untuk ekspor. Ia menilai pengoperasian fasilitas Mazda lokal sebagai momentum yang mendukung arah tersebut.
Setia menyampaikan harapan agar kendaraan Mazda Indonesia kelak dapat masuk ke Australia atau kawasan ASEAN. Pernyataan itu disampaikan di Bogor pada Selasa, 28 Juli 2026.
Meski demikian, Kementerian Perindustrian menempatkan penguasaan pasar domestik sebagai bekal awal yang penting. Basis penjualan dalam negeri yang kuat dapat membantu membangun skala produksi dan kesiapan bisnis sebelum ekspor dijalankan.
Fasilitas Citeureup kini berada pada fase membangun fondasi melalui perakitan CX-30 dan pengendalian kualitas. Keberhasilan fase ini akan menentukan ruang Mazda untuk menambah model serta memasuki pasar luar negeri pada masa depan.






