Dari Maurole hingga Bulukumba, Gelombang Tsunami Terukur Setelah Gempa M 7

Maurole di Kabupaten Ende mencatat gelombang tsunami tertinggi, yakni 0,94 meter, setelah gempa magnitudo 7 mengguncang Nusa Tenggara Timur. Di Bulukumba, Sulawesi Selatan, gelombang juga terukur setinggi 0,54 meter.

Dua catatan tersebut memperlihatkan jangkauan dampak gelombang dari NTT hingga Sulawesi Selatan. Secara keseluruhan, tsunami terdeteksi di 10 wilayah yang meliputi NTT, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan.

Catatan Ketinggian Gelombang

BMKG mencatat gelombang di Maurole terjadi pada pukul 05.27 WIB. Gelombang di Bulukumba tercatat kemudian, yakni pada pukul 05.58 WIB.

LokasiProvinsiKetinggian GelombangWaktu
Maurole, EndeNTT0,94 meter05.27 WIB
BulukumbaSulawesi Selatan0,54 meter05.58 WIB

Data pengukuran ini menjadi bagian dari pemutakhiran kondisi setelah gempa. Masyarakat di kawasan pesisir diminta mengacu pada informasi resmi terkait perkembangan situasi.

Pusat Gempa di Laut Dekat Mbay

Gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB di titik 8,33 Lintang Selatan dan 121,32 Bujur Timur. Pusat gempa berada di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 10 kilometer.

Dalam pembaruan melalui akun X, BMKG menyampaikan parameter gempa dengan kekuatan magnitudo 7. Informasi itu juga menegaskan lokasi pusat gempa dan kedalaman sumber getaran.

Getaran berintensitas IV-V MMI dirasakan di Ruteng, Ende, Labuan Bajo, Maumere, serta Sumba Timur. Kota Bima dan Kabupaten Dompu juga melaporkan guncangan dengan intensitas V MMI.

Di Kupang dan Kabupaten Sumbawa Barat, guncangan dilaporkan berada pada intensitas IV MMI. Dampak Gempa M 7 NTT kemudian diikuti deteksi gelombang di berbagai wilayah.

Evakuasi Dilakukan di Kepulauan Selayar

Warga di Kecamatan Pasimarannu dan Pasilambena, Kabupaten Kepulauan Selayar, memilih menuju area yang lebih tinggi setelah peringatan tsunami disampaikan. Langkah tersebut dilakukan warga di sejumlah pulau sebagai respons atas potensi bahaya di pesisir.

Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Natsir Ali mengatakan masyarakat merespons peringatan secara cepat. Pengalaman gempa pada 2021 disebut berpengaruh terhadap kesiapan warga menghadapi situasi kali ini.

“Saya sudah langsung video call dengan pemerintah kecamatan, masyarakat yang ada di Pasimarannu, Pasilambena. Memang sempat ada kejadian di 2021 yang mengakibatkan trauma masyarakat,” ujar Natsir Ali seperti dikutip CNBC Indonesia.

Natsir menyatakan pengalaman sebelumnya membuat warga tidak menunda evakuasi. “Alhamdulillah kesadaran masyarakat menghadapi gempa di Pasimarannu, Pasilambena cepat, mereka langsung lari ke bukit,” katanya.

Pada kejadian 2021, gempa pernah menimbulkan kerusakan pada rumah warga, tanggul, dan jalan. Namun, pemerintah daerah Selayar belum menerima laporan kerusakan rumah maupun sekolah pada kejadian terbaru.

Warga dan pemerintah daerah tetap diminta waspada terhadap pembaruan Tsunami di Selayar serta wilayah lain yang terdampak. Informasi resmi BMKG menjadi rujukan utama untuk memantau perkembangan gempa dan potensi tsunami.

Baca Juga