Dari Sushi hingga Biskuit, Masa Depan Kimpul Ditentukan oleh Selera Konsumen

Kimpul telah masuk ke beragam format makanan modern, dari sushi dan lasagna hingga seblak serta chewy cookie. Meski kreasi itu memperluas daya tarik umbi lokal, masa depannya sebagai pangan alternatif tetap ditentukan oleh selera dan kebiasaan konsumsi masyarakat.

Produk kimpul harus mampu menawarkan rasa yang disukai, bentuk yang akrab, dan kemudahan penyajian agar tidak sekadar dibeli untuk dicoba. Tantangan tersebut dinilai lebih menentukan daripada ketersediaan kimpul di pasar.

Tren Perlu Berubah Menjadi Konsumsi Rutin

Ahli gizi Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh, mengingatkan bahwa popularitas kimpul dapat berlangsung singkat jika hanya dipandang sebagai bahan pangan yang unik. Penerimaan konsumen perlu dibangun agar masyarakat mempunyai alasan untuk kembali mengonsumsinya.

Strategi tersebut dapat menyasar Milenial hingga Generasi Alpha melalui menu yang menarik dan produk praktis. Namun, daya tarik visual atau bentuk modern tidak cukup tanpa pengolahan yang baik, manfaat gizi yang jelas, serta keamanan pangan.

Kimpul juga memerlukan pengolahan tepat untuk mengurangi rasa gatal. Perhatian terhadap proses ini penting karena kualitas produk akan memengaruhi kenyamanan konsumsi dan penerimaan masyarakat.

Potensi dari Keluarga Talas-talasan

Kimpul merupakan umbi tradisional yang termasuk keluarga Araceae atau talas-talasan. Bahan pangan ini mengandung serat dan memiliki karakteristik pati yang dinilai baik, sehingga berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif.

Umbi tersebut dapat melengkapi pilihan karbohidrat selain beras dan singkong dalam kerangka diversifikasi pangan. Akan tetapi, kimpul belum realistis untuk ditempatkan sebagai pengganti nasi secara penuh.

Lailatul menjelaskan kuatnya kebiasaan masyarakat menjadikan nasi sebagai makanan utama. “Sebenarnya, potensi kimpul cukup besar sebagai sumber karbo alternatif, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki pemikiran ‘Kalau belum makan nasi, berarti belum makan’,” ujarnya dalam penjelasan yang dimuat Universitas Airlangga.

Atas dasar itu, kimpul lebih sesuai diposisikan sebagai substitusi parsial dan pangan pendamping. Kepraktisan pengolahan serta penerimaan konsumen masih menjadi faktor yang membatasi perannya dibandingkan beras.

Tepung Kimpul Memperluas Pilihan Produk

Pengolahan menjadi tepung kimpul dinilai memberikan peluang penggunaan yang lebih luas daripada konsumsi umbi utuh. Tepungnya dapat digunakan untuk menggantikan sebagian terigu dalam berbagai olahan pangan.

Bentuk KimpulPengolahanProduk atau Pemanfaatan
Umbi utuhDirebus atau dikukusDikonsumsi langsung
TepungDiolah dari kimpulCookies, biskuit, brownies, cake, bolu, pancake
Olahan campuranDipadukan dengan bahan lainKeripik, stik, bubur, MP-ASI, biskuit fortifikasi

Pemanfaatan tepung memungkinkan pelaku usaha menawarkan produk dengan bentuk yang lebih dikenal konsumen. Kimpul yang dikombinasikan dengan sumber protein juga dapat digunakan untuk membuat bubur, MP-ASI, dan biskuit fortifikasi.

Pengembangan produk perlu berjalan bersama edukasi mengenai cara pengolahan dan alasan mengonsumsi pangan lokal. Langkah itu dapat membantu masyarakat melihat kimpul sebagai pilihan yang relevan, bukan sekadar bahan untuk kreasi sesaat.

Pemerintah dapat mendukung melalui jaminan produksi, distribusi, dan harga, sekaligus memasukkan pangan lokal dalam program pangan. Akademisi dapat memperkuat penelitian terkait gizi dan keamanan, sementara pelaku usaha menyediakan produk yang sehat dan mudah dikonsumsi.

Baca Juga