Pertumbuhan industri pengolahan yang baru mencapai 4,52 persen hingga kuartal II menjadi sorotan dalam target ekonomi Indonesia 6 persen pada 2027. Sektor ini dinilai perlu tumbuh lebih kuat karena memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan kegiatan yang hanya mengandalkan pengambilan sumber daya alam.
Tanpa penguatan manufaktur, agenda hilirisasi dan industrialisasi menghadapi tantangan besar. Kemampuan industri domestik mengolah bahan dari pertanian dan pertambangan akan menentukan seberapa jauh ekonomi dapat mengurangi ketergantungan pada impor.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Tallatov menilai target 6 persen harus dilihat dari struktur ekonomi nasional. Dalam diskusi daring pada Sabtu (15/8/2026), ia mengatakan sektor-sektor produktif perlu bergerak lebih cepat dari tren satu dekade terakhir.
Industri Pengolahan Belum Optimal
Selama sekitar 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang sektor pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Komposisi itu membuat penguatan industri pengolahan menjadi penting untuk menaikkan nilai tambah di dalam negeri.
Abra mendorong pengolahan lebih lanjut terhadap bahan baku dari sektor pertanian dan pertambangan. Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat sektor tradable yang produknya dapat diperdagangkan.
Ekspor non-migas industri pengolahan tumbuh 7,37 persen pada semester I. Angka ini memberi sinyal positif, tetapi perlu ditingkatkan agar manufaktur dapat menjadi sumber pertumbuhan yang lebih besar.
| Indikator | Periode | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Industri pengolahan | Hingga kuartal II | 4,52 persen |
| Ekspor industri pengolahan | Semester I | 7,37 persen |
| Investasi masyarakat atau swasta | Hingga kuartal II | 6,87 persen |
| Ekspor non-migas | Januari-Juni | 4,9 persen |
| Impor non-migas | Januari-Juni | 15,5 persen |
| Impor bahan baku | Semester I | 18,4 persen |
| Impor barang modal | Semester I | 20,5 persen |
Impor Tumbuh Lebih Cepat dari Ekspor
Tantangan manufaktur beriringan dengan ketimpangan kinerja perdagangan non-migas. Ekspor non-migas hanya naik 4,9 persen pada Januari hingga Juni, sementara impor non-migas bertumbuh 15,5 persen.
Impor bahan baku meningkat 18,4 persen pada semester I. Pada periode yang sama, impor barang modal naik 20,5 persen, menunjukkan proses produksi dan investasi masih membutuhkan pasokan luar negeri.
Menurut Abra, ketergantungan impor non-migas masih jauh lebih besar daripada ekspor. “Artinya, masih ada tiga kali lipat ketergantungan impor non-migas kita dibandingkan ekspor,” ujarnya.
Ketimpangan itu berkaitan dengan daya saing manufaktur Indonesia di pasar internasional. Pertumbuhan sektor pengolahan yang belum menembus 5 persen membuat fondasi ekspor belum cukup kuat untuk mendukung sasaran pertumbuhan lebih tinggi.
Investasi Belum Cukup Tanpa Daya Beli
Investasi masyarakat atau swasta mencatat pertumbuhan 6,87 persen hingga kuartal II. Namun, peningkatan investasi belum dapat berdiri sendiri tanpa perbaikan ekspor dan penguatan kapasitas produksi dalam negeri.
Konsumsi rumah tangga juga masih menjadi pekerjaan rumah karena pertumbuhannya stagnan di sekitar 5 persen dalam satu dekade terakhir. Padahal, konsumsi masyarakat merupakan salah satu penopang penting aktivitas ekonomi domestik.
Penguatan daya beli, peningkatan daya saing industri pengolahan, dan pengurangan kebutuhan bahan baku impor menjadi faktor yang saling berkaitan. Perbaikan pada aspek-aspek itu akan menentukan kelayakan target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027.






