Sidang Bersama MPR-DPR-DPD 2026 Sederhanakan Dekorasi dan Hentikan Lagu Pemancing Joget

Panitia Sidang Bersama Tahunan MPR-DPR-DPD 2026 akan menyederhanakan dekorasi gedung dan menghentikan pemutaran lagu yang berpotensi memancing aksi joget. Penataan itu ditujukan untuk memperkuat suasana khidmat dalam forum kenegaraan.

Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut tampilan ruang sidang, tetapi juga pilihan musik sepanjang acara. Lagu nasional dan daerah menjadi satu-satunya jenis lagu yang direncanakan diputar.

Penataan untuk Forum Kenegaraan

Kepala Biro Protokol, Humas, dan Media Sekretariat Jenderal DPD RI Mahyu Darma mengatakan panitia telah melakukan evaluasi. Salah satu hasilnya adalah tidak menggunakan lagu populer yang dapat mengundang respons santai dari peserta.

Mahyu menyampaikan bahwa panitia mempertimbangkan untuk tidak memutar “lagu-lagu memancing joget”. Pernyataan itu disampaikan di kompleks parlemen, Jakarta, saat memaparkan persiapan Sidang Bersama Tahunan MPR-DPR-DPD 2026.

Menurut Mahyu, dekorasi juga akan dibuat sederhana agar selaras dengan karakter sidang. Panitia ingin penghormatan terhadap pelaksanaan agenda negara tercermin dalam seluruh elemen acara.

Pengaturan suasana menjadi perhatian karena peserta yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 1.200 orang. Fokus acara diharapkan tetap tertuju pada jalannya agenda konstitusional, bukan pada unsur hiburan di luar sidang.

Undangan Mencapai Sekitar 1.200 Orang

Komposisi peserta mencakup 732 anggota DPR RI dan DPD RI. Undangan lainnya berasal dari unsur mantan pemimpin negara, kabinet, serta perwakilan negara sahabat.

Unsur KehadiranKeterangan
Anggota parlemen732 anggota DPR RI dan DPD RI
Jumlah keseluruhanSekitar 1.200 peserta
Tamu khusus Presiden8 penerima manfaat program strategis pemerintah

Mantan presiden dan mantan wakil presiden akan masuk dalam daftar undangan sidang. Anggota kabinet serta tamu VIP dari kalangan duta besar negara sahabat juga disebut akan hadir.

Presiden Prabowo Subianto mengundang delapan penerima manfaat program strategis pemerintah sebagai tamu khusus. Puan Maharani menyatakan kehadiran mereka dimaksudkan untuk menghadirkan kelompok yang telah memperoleh manfaat dari program pemerintah.

Identitas delapan tamu khusus dan rincian program yang mereka terima tidak dijelaskan. Kehadiran mereka menjadi bagian dari susunan undangan dalam sidang yang melibatkan unsur negara dan diplomatik.

Merespons Peristiwa Sidang Sebelumnya

Penyesuaian konsep acara dilakukan setelah aksi berjoget sejumlah anggota dewan pada Sidang Tahunan MPR 2025 menjadi sorotan. Aksi itu berlangsung setelah pidato Presiden dan rangkaian acara resmi selesai, ketika lagu populer diputar.

Menurut CNN Indonesia, peristiwa tersebut ikut memicu sentimen publik dan gelombang demonstrasi pada akhir Agustus. Situasi itu kemudian menjadi salah satu konteks evaluasi untuk penyelenggaraan sidang tahun ini.

Ketua DPR RI Puan Maharani mengatakan peserta sidang sebelumnya tetap mengikuti pidato Presiden dengan khidmat. Ia menyebut aksi yang terjadi setelahnya bersifat spontan.

“Jadi tidak ada hal yang kemudian membuat kami sepertinya tidak menghargai,” kata Puan. Ia menekankan bahwa kegembiraan menyambut Hari Kemerdekaan RI tetap penting, tetapi tidak boleh mengurangi kekhidmatan agenda kenegaraan.

Pembatasan musik dan dekorasi sederhana kini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan tersebut. Sidang 2026 diharapkan tetap memuat semangat peringatan kemerdekaan sambil mempertahankan wibawa forum negara.

Baca Juga