Ledakan yang menargetkan kendaraan Habib-ur-Rahman Mansour menewaskan Wali Kota Faizabad pada Kamis (14/8). Serangan itu terjadi saat Badakhshan masih menghadapi dampak penembakan terhadap pejabat lain dan ketegangan dalam operasi pemberantasan opium.
Pembunuhan Mansour memperlihatkan bahwa ancaman terhadap pejabat di provinsi tersebut belum mereda. Dalam waktu kurang dari tiga pekan, Badakhshan telah kehilangan dua figur pemerintahan akibat kekerasan bersenjata.
Kendaraan Menjadi Sasaran Bom
Seorang perawat Rumah Sakit Provinsi Badakhshan mengatakan kepada AFP bahwa Mansour meninggal setelah kendaraan yang ditumpanginya terkena ledakan. Narasumber itu meminta identitasnya dirahasiakan.
Seorang pegawai pemerintah kota juga menyatakan bahwa bom dipasang di dekat tempat kerja mereka. Ia mengatakan Mansour dibunuh oleh ledakan tersebut dan meminta namanya tidak dipublikasikan demi keamanan.
National Resistance Front atau NFR kemudian mengklaim tanggung jawab atas serangan itu. Dalam unggahan di X, kelompok oposisi bersenjata tersebut menyebut kendaraaan wali kota sebagai target operasi mereka.
Belum disebutkan adanya penjelasan lebih lanjut dari otoritas setempat mengenai dampak serangan maupun tindakan pengamanan setelah ledakan. Peristiwa ini terjadi di Faizabad, pusat pemerintahan Provinsi Badakhshan.
Penembakan Mendahului Serangan Bom
Kurang dari tiga pekan sebelum Mansour tewas, Zabihullah Amiri ditembak mati saat menuju Faizabad. Amiri menjabat sebagai kepala Departemen Informasi dan Kebudayaan Badakhshan.
Islamic State-Khorasan atau IS-K mengklaim bertanggung jawab atas penembakan Amiri. Klaim tersebut berbeda dari kasus Mansour yang dikaitkan dengan National Resistance Front.
| Waktu Kejadian | Pejabat yang Tewas | Jenis Serangan | Klaim Tanggung Jawab |
|---|---|---|---|
| Kamis (14/8) | Habib-ur-Rahman Mansour | Ledakan pada kendaraan | National Resistance Front |
| Kurang dari tiga pekan sebelumnya | Zabihullah Amiri | Penembakan dalam perjalanan | Islamic State-Khorasan |
Badakhshan Memiliki Kepentingan Ekonomi
Badakhshan dikenal sebagai wilayah terpencil yang menjadi pusat pertambangan penting di Afghanistan. Menurut laporan Detik yang mengutip AFP, Taliban memperluas sektor pertambangan di provinsi itu sejak kembali berkuasa.
Nilai ekonomi wilayah ini berjalan beriringan dengan tantangan keamanan yang terus muncul. Serangan terhadap pejabat dapat meningkatkan perhatian terhadap stabilitas di area yang memiliki kegiatan pertambangan tersebut.
Pada Mei, pasukan keamanan berupaya menghancurkan ladang opium di Badakhshan. Operasi itu memicu bentrokan yang menewaskan dua orang, termasuk seorang remaja.
Peristiwa terkait opium menunjukkan bahwa tekanan di Badakhshan tidak semata berasal dari serangan kelompok bersenjata. Kebijakan keamanan juga dapat memicu konflik di tengah masyarakat setempat.
Janji Taliban Dihadapkan pada Serangan Sporadis
Taliban berulang kali menjanjikan pemulihan keamanan di Afghanistan sejak 2021. Namun, aksi kekerasan sporadis masih berlangsung dan sebagian diklaim oleh cabang regional kelompok Negara Islam.
Pada Januari, IS-K mengklaim serangan ledakan di sebuah restoran China di pusat Kabul. Sedikitnya tujuh orang tewas dalam insiden tersebut.
Kasus di Kabul, penembakan Amiri, dan tewasnya Mansour memperlihatkan ancaman kekerasan masih membayangi Afghanistan. Bagi Faizabad, kematian wali kotanya menjadi pukulan terbaru di tengah situasi Badakhshan yang telah berada di bawah tekanan.






