BMKG memastikan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan di pesisir terdampak gempa Nusa Tenggara Timur. Atas dasar hasil pemantauan itu, peringatan dini tsunami diakhiri pada Sabtu (15/8/2026) pukul 07.30 WIB.
Situasi laut yang lebih aman belum menandai berakhirnya seluruh aktivitas kegempaan di kawasan tersebut. Hingga pukul 07.00 WIB, tercatat 37 gempa susulan dengan kekuatan Magnitudo 3,6 hingga 6,2.
Keputusan Diambil Setelah Pengawasan Muka Laut
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyebut pemantauan pascagempa tidak lagi memperlihatkan kondisi perairan yang mengancam masyarakat pesisir. Pengawasan tinggi muka laut dan aktivitas susulan tetap berjalan secara real-time.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly Florida Riama dalam keterangan resmi. Pernyataan itu menjelaskan alasan pengakhiran Peringatan Tsunami setelah guncangan kuat terjadi.
Masyarakat pesisir sebelumnya sempat meningkatkan kewaspadaan karena gempa utama berpotensi menimbulkan ancaman gelombang tsunami. Setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi laut tidak membahayakan, status peringatan tersebut dinyatakan berakhir.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Waktu gempa utama | 04.58 WIB |
| Kekuatan gempa utama | Magnitudo 7,7 |
| Lokasi pusat gempa | Laut, 30 km timur laut Nagekeo |
| Susulan hingga 07.00 WIB | 37 gempa, Magnitudo 3,6-6,2 |
Gempa Berkaitan dengan Flores Back-Arc Thrust
Gempa utama yang mengguncang wilayah Gempa NTT terjadi pada pukul 04.58 WIB. Episentrumnya berada di laut, sekitar 30 kilometer di timur laut Nagekeo.
BMKG menyatakan kejadian itu berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Sistem patahan tersebut terbentuk akibat proses subduksi lempeng dan termasuk struktur geologi aktif.
Busur belakang Flores membentang dari kawasan utara Bali hingga terhubung dengan Sesar Wetar di Laut Banda. Bentangan struktur itu membuat kawasan terkait memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi.
Sejarah Gempa Besar Menguatkan Pemantauan
Flores Back-Arc Thrust menyimpan catatan aktivitas seismik yang panjang. Sejak 1900 sampai 2022, tercatat 79 gempa berkekuatan di atas Magnitudo 6,0 di kawasan tersebut.
Sebanyak 11 gempa dari catatan itu pernah memicu tsunami. Gempa Flores pada 1992 termasuk peristiwa yang tercatat menewaskan 2.500 jiwa.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menilai pelepasan energi besar kembali berlangsung di busur belakang Flores setelah hampir tiga dekade. Riwayat tersebut menjadi alasan penting bagi BMKG untuk melanjutkan pemantauan intensif setelah gempa utama.
Selain mengikuti informasi perkembangan gempa, masyarakat diminta memeriksa keutuhan struktur bangunan setelah guncangan. Langkah ini penting dilakukan di tengah kemungkinan gempa susulan yang masih terpantau.






