Koroner Ungkap Penyebab Kematian Pangeran Arab, GHB dan Alkohol Picu Henti Jantung

Koroner di London menyatakan Pangeran Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi Al Saud meninggal setelah henti jantung akibat campuran sejumlah zat. Alkohol dan Gamma-hydroxybutyrate atau GHB menjadi temuan utama dalam pemeriksaan toksikologi terhadap pria berusia 29 tahun itu.

Pengadilan tidak menemukan penyakit akut atau kronis dalam autopsi Abdullah. Tidak ada pula bukti bunuh diri, surat perpisahan, maupun keterlibatan orang lain menjelang kematiannya.

Alkohol pada tingkat berbahaya

Kadar alkohol dalam darah Abdullah tercatat 222 mg etanol per 100 ml darah. Nilai tersebut hampir tiga kali batas mengemudi legal di Inggris yang berada pada angka 80 mg per 100 ml darah.

Tingkat alkohol itu disebut dapat memicu koma. Dalam kondisi bersamaan, pemeriksaan menemukan GHB berkadar tinggi yang dikenal berpotensi mematikan.

ZatHasil pemeriksaanKeterangan
Alkohol222 mg etanol per 100 ml darahHampir tiga kali batas mengemudi Inggris
GHBKadar tinggiBerpotensi mematikan
GanjaJejak ditemukanTerdeteksi dalam toksikologi
AlprazolamDosis rekreasionalDikenal dengan nama Xanax

Selain itu, tes toksikologi mendeteksi jejak ganja dan alprazolam dalam dosis rekreasional. Beberapa obat antikecemasan lain juga ditemukan, tetapi dalam dosis terapi.

Kematian dinyatakan tidak disengaja

Asisten Koroner Jean Harkin menetapkan kematian Abdullah sebagai kematian akibat tindakan berisiko yang tidak disengaja. Penyebab medisnya dicatat sebagai konsumsi berbagai zat.

Putusan itu didasarkan pada temuan medis, rekaman CCTV, dan tidak adanya tanda keterlibatan pihak lain. Jean Harkin menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Abdullah setelah menyampaikan penetapan tersebut.

Kamar terkunci dari dalam

Abdullah menginap di Hotel Marriott, Kensington, London Barat, sejak 19 November untuk tinggal selama satu pekan. Ia ditemukan meninggal pada 25 November di kamar lantai lima yang terkunci dari dalam.

Petugas kebersihan menemukan Abdullah masih mengenakan pakaian lengkap di lantai kamar mandi. Petugas keamanan dan tim ambulans datang setelahnya, tetapi resusitasi tidak berhasil.

Rekaman CCTV menunjukkan Abdullah terakhir terlihat pada malam sebelum kematiannya ketika keluar hotel untuk merokok. Tidak ada bukti yang mengarah pada keberadaan orang lain di kamarnya setelah momen tersebut.

Riwayat pemulihan dari zat adiktif

CNBC Indonesia melaporkan Abdullah sebelumnya memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol dan Xanax. Pada Agustus tahun lalu, ia menjalani perawatan intensif di Priory Clinic di Roehampton, London Barat Daya.

Ia mengikuti program detoksifikasi dari alkohol, benzodiazepin, dan pregabalin di fasilitas itu. Dr. Victoria Chamorro selaku psikiater konsultan menyatakan proses tersebut berjalan baik tanpa efek samping fisik selama detoksifikasi.

“Ia sangat kooperatif dan bersikap baik kepada pasien lain sehingga menjalin banyak pertemanan,” ujar Chamorro dalam keterangan di pengadilan. Abdullah sempat mengalami suasana hati rendah dan kecemasan pada awal perawatan, tetapi tidak dinilai memiliki risiko bunuh diri saat dipulangkan.

Setelah dari Priory Clinic, ia melanjutkan perawatan di Rainford Hall Clinic, St Helens, Merseyside. Abdullah sempat didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan atas sebelum pulih dan meninggalkan fasilitas itu pada 14 Oktober.

Baca Juga